Jombang yang selama ini dikenal sebagai Kota Santri, tengah menghadapi fenomena yang mencengangkan. Dalam dua bulan pertama tahun 2025, empat kasus pembunuhan sadis mengguncang ketenangan kota ini.
Ironisnya, tiga dari empat kasus itu memiliki satu kesamaan: pesta minuman keras (miras) menjadi pemicu utama. Seolah-olah ada celah besar yang menganga di antara citra religius yang melekat pada Jombang dan realitas sosial yang terjadi di baliknya.
Dulu, Jombang identik dengan kehidupan religius yang kental. Ribuan santri menimba ilmu di pesantren-pesantren legendarisnya, dari Tebuireng, Tambakberas, Denanyar hingga Rejoso. Pengajian, majelis ilmu, dan aktivitas keagamaan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat.
Namun kini, bayang-bayang hitam mulai menyelimuti kota ini. Pesta miras yang dulu dianggap tabu, kini justru menjadi pemantik tragedi berdarah yang berulang.
Kekerasan Setelah Pesta Miras: Bukti Nyata yang Mengkhawatirkan
Empat kasus pembunuhan dalam dua bulan terakhir menggambarkan betapa miras telah menjadi bom waktu yang meledakkan amarah dan kebrutalan:
Tukang potong rambut bunuh pegawai toko modern
Seorang pria nekat membunuh pegawai toko hanya karena berebut perempuan pada Kamis 10 Januari 2025 tengah malam. Korban mengalami luka parah di bagian leher dan dada akibat ditusuk dengan pisau lipat diduga terkait rebutan janda. Meskipun tidak ada kaitan langsung dengan miras, kasus ini menunjukkan bagaimana kekerasan bisa muncul dari emosi yang meledak-ledak.
Pembunuhan di Hutan Kabuh
Seorang pria ditemukan tewas dengan luka di sekujur tubuhnya setelah dikeroyok beberapa orang usai pesta miras pada 19 Januari 2025. Malam yang awalnya diisi dengan euforia berujung pada kehilangan nyawa.
Seorang pencari jamur menemukan mayat laki-laki tanpa identitas di hutan Petak 102 L RPH Tanjung, BKPH Ploso Timur, Dusun Randualas, Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh. Korban, yang kemudian diketahui bernama M. Fais (19). Dia tewas dengan enam luka robek di kepala dan tulang tengkorak yang patah akibat hantaman benda tumpul.
Polisi bergerak cepat. Enam tersangka berhasil diringkus, tiga di antaranya masih di bawah umur. Motifnya klasik, tetapi tetap menyayat hati: sakit hati dan perampokan. Nyawa M. Fais dihabisi demi sebuah sepeda motor Yamaha N-Max dan ponsel. Satu kasus terselesaikan, tetapi kisah kelam ini ternyata belum berakhir.
Perempuan diperkosa dan dibunuh
Tiga orang pelaku yang dalam keadaan mabuk memperkosa seorang perempuan lalu membunuhnya. Kejahatan yang bukan hanya sadis, tapi juga mencerminkan bagaimana miras melumpuhkan akal sehat dan menghilangkan batas moral.
Mayat korban ditemukan di sungai Dusun Peluk Desa Pacarpeluk Kecamatan Megaluh, pada 11 Februari 2025. Korban ternyata Putri Regita Amanda (18), seorang siswi kelas XII yang seharusnya tengah mempersiapkan masa depan, bukan ditemukan tak bernyawa di aliran sungai.
Hasil autopsi mengungkap luka sobek di kepala dan benturan keras di perutnya. Namun, yang lebih mengerikan, ia masih hidup saat dibuang ke sungai. Ia meregang nyawa karena tenggelam. Tiga pelaku berhasil dibekuk.
Mutilasi di Saluran Irigasi Dukuharum
Seorang pria dibunuh oleh sahabatnya sendiri usai pesta miras. Kepala korban digorok menggunakan alat pemotong kayu hingga putus. Tidak hanya menghilangkan nyawa, tetapi juga dilakukan dengan cara yang sangat brutal, menunjukkan hilangnya kesadaran kemanusiaan setelah mabuk.
Keempat kasus ini memperlihatkan pola yang serupa: konsumsi miras diikuti oleh peristiwa kekerasan yang tak terkendali. Jika hal ini terjadi sekali atau dua kali, mungkin bisa dianggap sebagai kasus kebetulan. Namun, ketika pola ini berulang dalam waktu yang singkat, ini bukan lagi sebuah anomali, melainkan alarm bahaya bagi Jombang.
Miras di Kota Santri: Dari Mana Datangnya?
Pertanyaan besar yang muncul adalah: bagaimana miras bisa begitu mudah beredar di kota yang dikenal religius? Apakah ada jaringan distribusi yang leluasa beroperasi tanpa hambatan? Ataukah aparat hukum kurang tegas dalam memberantas peredarannya?
Atas deretan kriminalitas yang keji itu Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan menabuh perang terhadap peredaran miras. Dalam operasi baru yang dirilis pada 18 Februari 2025, Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) berhasil menyita sekitar 2.600 botol miras berbagai merek dari berbagai lokasi di Jombang.
Salah satu hasil razia terbesar terjadi ketika petugas berhasil mencegat sebuah mobil pikap yang membawa miras jenis arak dari Bali. Minuman haram tersebut rencananya akan dikirim ke sejumlah daerah, termasuk Jombang, Nganjuk, Salatiga, dan Yogyakarta.
Fakta bahwa miras menjadi bagian dari gaya hidup sebagian anak muda di Jombang menunjukkan adanya perubahan sosial yang signifikan. Kini ada kelompok yang lebih memilih mencari kesenangan di tempat-tempat yang lebih gelap. Pergaulan yang semakin bebas, kemudahan akses terhadap minuman keras, dan lemahnya kontrol sosial membuat tren ini semakin mengkhawatirkan.
Jombang yang Berubah Wajah: Ada Apa dengan Generasi Muda?
Dunia terus berubah, begitu pula Jombang. Gempuran budaya luar, gaya hidup hedonis, dan lemahnya ketahanan moral individu semakin memperbesar jurang antara nilai-nilai agama yang diajarkan dan kenyataan yang terjadi. Generasi muda yang seharusnya menjadi penerus tradisi keilmuan dan kebijaksanaan, justru terseret dalam arus kehidupan yang mengarah pada kehancuran moral.
Apakah ini pertanda bahwa identitas Jombang sebagai Kota Santri mulai memudar? Ataukah ada sesuatu yang luput dari perhatian kita? Pendidikan agama yang diajarkan di rumah dan sekolah mungkin masih berjalan, tetapi apakah cukup untuk membentengi anak muda dari godaan dunia luar?
Fenomena ini seharusnya menjadi panggilan darurat bagi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, ulama, aparat penegak hukum, hingga masyarakat umum. Peredaran miras harus diperangi dengan lebih serius, bukan sekadar razia sesaat yang hilang tanpa jejak.
Pendidikan moral dan agama harus lebih ditekankan, bukan hanya dalam bentuk hafalan dan teori, tetapi juga dalam praktik nyata yang membentuk karakter.
Jombang tidak boleh kehilangan jati dirinya. Jika miras terus merajalela dan kekerasan semakin menjadi-jadi, maka julukan Kota Santri bisa menjadi sekadar kenangan yang tertinggal di masa lalu. Kini saatnya untuk bertanya: Apakah kita akan membiarkan Jombang berubah menjadi kota penuh kebrutalan? Ataukah kita masih bisa menyelamatkan wajah Kota Santri ini sebelum semuanya terlambat? [suf]






