Ketika mendapat kabar Bejo Sugiantoro meninggal dunia (28/1/2025) saya sedang tidak berada di Surabaya. Saya membantu keponakan yang hendak berangkat umrah.
Sore sebelum maghrib saya menerima telepon dari Mas Ferry Is Mirza (Fim) kolega saya saat di Jawa Pos, yang sama-sama ‘soccer enthusiast’, penggemar sepak bola. Telepon Mas Fim tidak terjawab karena saya masih ada kesibukan. Beberapa saat kemudian saya baca pesan Whatsapp dari Mas Fim, “Pak Doktor kabar duka, sohib kita Bejo Sugiantoro tuwaffa sore ini di lapangan SIER”.
Kata ‘tuwaffa’ artinya ‘diwafatkan’ atau meninggal dunia. Saya dengan Mas Fim sering berbicara dengan memakai istilah-istilah ‘Bahasa Arab Ampel’, karena sama-sama ‘alumnus Ampel’. Mas Ferry sekolah di lingkungan etnis Arab, dan saya bekerja menjaga toko di Jl Sasak selama 3 tahun sambil ‘nyambi’ kuliah di AWS.
Saya terhenyak mendengar kabar itu. Bejo masih sangat muda, di bawah 50 tahun. Badannya fit, gaya hidupnya sehat dan tertib, dan masih menjadi pelatih Deltras FC yang bermain di Liga 2. Saya sempat menonton pertandingan babak 8 besar Liga 2 antara PSPS Pekanbaru vs Deltras FC di Stadion Kaharuddin Nasution Rumbai, Pekanbaru, 8 Februari 2025. Ketika itu saya kebetulan sedang mengikuti acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari di Riau.
Saya menonton dari tribun VVIP bersama Joko Tetuko, wartawan olahraga senior, yang sama-sama menghadiri HPN. Deltras kalah 0-2. Kami tidak sempat turun ke bench untuk berbincang dengan Coach Bejo Sugiantoro. Tapi, dari tribun saya memerhatikan Bejo memberi instruksi kepada anak-anak asuhnya. Itulah saat terakhir saya melihat Bejo.
Bejo meninggal di Lapangan SIER, lapangan yang menjadi ajang reuni pemain-pemain legend Persebaya secara rutin. Di lapangan itu para legend sering berkumpul dan bermain ‘fun football’ beramai-ramai.
Yang masih sering muncul ialah Syamsul Arifin, si kepala emas yang sekarang usianya hampir menyentuh kepala 7. Maura Helly, Muharrom Rosdiana, dan generasi yang lebih muda seperti Anang Makruf dan Mat Halil sering bermain bersama di lapangan SIER. Saya sering ikut gabung bermain bola di lapangan itu.
Bejo kolaps ketika sedang bermain. Dia dilarikan ke RS Royal yang jaraknya hanya ratusan meter dari lapangan. Nyawannya tidak tertolong. Ini bukan kali pertama bintang Persebaya meninggal di lapangan SIER. Beberapa tahun yang lalu Ahmad Ariadi, mantan striker Persebaya, juga kolaps dan meninggal dunia di lapangan SIER.
Penggemar Persebaya belum lupa peristiwa 20 tahun yang lalu Eri Irianto, gelandang Persebaya, meninggal dunia ketika sedang membela Persebaya melawan PSIM Jogjakarta. Ia mengalami benturan dengan pemain lawan lalu kolaps. Nyawanya tidak tertolong.
Saya menyesal tidak bisa datang ke pemakaman Bejo. Saya hanya bisa menyaksikan dari berita media banyak legenda Persebaya yang hadir dalam pemakaman, termasuk Jacksen F Tiago yang menyempatkan diri setelah membawa tim Borneo FC Junior main di Jakarta.
Malam hari setelah kematian Bejo, saya mengalami mimpi unik. Dalam mimpi saya merasa sedang mengikuti acara PSSI. Mungkin saya masih terbawa oleh kenangan ketika menjadi ketua Pengda PSSI Jatim di awal tahun 2000-an. Sudah menjadi tradisi di Jatim setiap ada acara PSSI selalu ada acara fun football.
Kebetulan tempat acara bersebelahan dengan lapangan sepak bola. Saya diajak teman-teman untuk bermain fun football. Saya menolak, karena saya sudah gantung sepatu bertahun-tahun. Sejak masa Covid-19 saya berhenti bermain bola.
Teman-teman memaksa. Akhirnya saya ikut. Saya masih punya sepatu bola. Saya pasang sepatu. Terasa sesak karena lama tidak dipakai. Saya main sebagai striker, tapi tidak bisa mencetak gol, karena tiga back lawan sangat rapat pertahanannya.
Saat jeda main, saya komplain karena lapangan tidak bersih. Masih ada sisa-sisa baliho atau spanduk di pinggir lapangan. Saya protes kepada Bejo Sugiantoro yang menjadi kapten tim lawan. Bejo memakai jersey hijau khas Persebaya, tapi saya tidak melihat nomor punggungnya.
Menanggapi protes saya Bejo berkata, “Gak opo-opo Ji, terus ae” (Tidak apa-apa, Ji, lanjut saja permainannya). Saya agak kaget karena Bejo menjawab dengan nada sengit. Tidak biasanya Bejo berkata sengit, kepada saya. Apalagi memanggil saya ‘Ji’. Biasanya dia panggil saya “Abah”, seperti umumnya teman-teman di lapangan.
Pertandingan babak kedua dilanjutkan. Tapi saya terbangun oleh alarm sahur.
Saya duduk tercenung di tempat tidur. Saya turun mengambil air wudhu. Shalat dua rakaat. Saya panjatkan doa untuk almarhum Haji Bejo Sugiantoro, “Allahumma ighfir lahu warhamhu….” []
- Adalah founder Askring FC Jawa Pos dan Subuh FC Surabaya






