Makkah (beritajatim.com) – Hartati Musirun Mukmin (56) berdiri di sela pilar-pilar hotel Makkah dengan pandangan yang menyimpan sejuta cerita, membuktikan bahwa panggilan Tuhan tak pernah salah alamat meski hamba-Nya sedang kehilangan tempat bernaung di bumi.
Enam purnama silam, perempuan asal Aceh Tamiang ini masih berdiri di atas lumpur, menatap nanar rumah peninggalan orang tuanya yang tenggelam hingga setinggi leher oleh amuk banjir bandang dan material longsor.
Kini, lumpur itu telah berganti hamparan ubin marmer putih yang sejuk. Hartati, seorang janda yang ditinggal wafat suaminya—seorang polisi asal Bojonegoro—sejak 2014, adalah satu dari 5.425 jemaah haji asal Serambi Mekkah yang mendarat di Tanah Suci tahun ini. Ia membawa serta duka yang telah mengering dan keyakinan yang justru semakin mengkristal di balik balutan kain ihramnya.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, bahwa di balik senyum tipisnya, Hartati masih memikul beban berat karena tak tahu harus pulang ke mana kelak. Rumahnya tak lagi berbentuk, terkubur material bencana yang hingga kini belum mampu ia bersihkan karena keterbatasan biaya.
“Rumahnya belum bisa saya perbaiki, karena uang pun nggak ada. Saya pun nggak tahu ke mana saya harus mengadu. Cuma saya mengadunya sama Allah,” tutur Hartati lirih saat ditemui di Burj Al Wahda Al Mutamayiz Hotel, Makkah, Selasa (12/5/2026). Air matanya tumpah, seolah mewakili setiap debit air banjir yang dulu menghancurkan segala harta bendanya.
Keberangkatan Hartati menuju pusat semesta adalah sebuah mukjizat administratif dan kekeluargaan. Ketika perwakilan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) datang membawa kabar keberangkatan pada awal tahun, Hartati hanya bisa terdiam. Bagaimana mungkin ia berangkat jika seluruh dokumen kependudukannya—KTP, KK, hingga berkas pendaftaran haji—telah lumat disapu air?
Namun, tangan-tangan tulus bergerak lebih cepat dari keraguannya. Ketiga anaknya yang telah mandiri sepakat melakukan “patungan” untuk melunasi sisa biaya perjalanan haji sebesar Rp17 juta. Baginya, anak-anaknya adalah rezeki paling nyata yang dikirimkan Allah saat dunianya sedang porak-poranda.
Proses birokrasi pun menembus batas kewajaran demi Hartati. Jamaluddin Affan Asyi, Koordinator jemaah haji Aceh, menceritakan betapa dramatisnya upaya pemerintah “jemput bola”.
Pihak Imigrasi bahkan sempat membuka kantor darurat di sebuah warung kopi di daerah bencana hanya karena di sanalah satu-satunya titik dengan akses WiFi yang menyala. Tanpa dokumen fisik, Hartati hanya perlu menempelkan jemarinya pada pemindai; biometriknya berbicara, dan datanya muncul kembali dari database kependudukan.
Kini di Makkah, Hartati tak lagi merasa miskin. Ia termasuk salah satu jemaah yang menerima keberkahan dari Waqaf Baitul Asyi, sebuah amanah wakaf masyarakat Aceh di Makkah yang telah berusia ratusan tahun. Uang sebesar SAR 2.000 atau sekitar Rp9,4 juta yang ia terima rencananya akan digunakan untuk keperluan ibadah dan bekal masa depannya.
Ada secercah rencana yang mulai ia susun di antara waktu tawafnya. Hartati menimbang untuk tidak kembali menetap di puing rumahnya di Aceh Tamiang. Ia merindu untuk berziarah ke makam para Wali Songo di Jawa, sembari memikirkan rencana besar untuk hijrah ke Bojonegoro, kampung halaman almarhum suaminya, Muhammad Sofyan.
“Mungkin pulang dari sini saya dapat rezeki. Entah rezeki apa saya nggak tahu, rahasia Allah. Cuma saya yakin saya pulang dari sini saya dapat rezeki dari Allah, itu aja yang saya yakin,” ucapnya dengan nada mantap, sebuah pernyataan yang menampar siapa saja yang meragukan kuasa Tuhan.
Bagi Hartati, bencana banjir bandang hanyalah sebuah cara Tuhan untuk membersihkan keterikatannya pada benda duniawi agar ia bisa berangkat dengan hati yang benar-benar kosong dan hanya terisi oleh asma-Nya. Di bawah langit Makkah yang membakar, ia menitipkan pesan untuk keluarga dan masyarakat di Aceh: jangan pernah berhenti menabung untuk haji.
Bagi perempuan yang kehilangan rumah ini, alasan “tak mampu” adalah kalimat yang harus dibuang jauh-jauh jika sudah berurusan dengan panggilan Sang Pencipta. Sebab, di matanya yang kini basah oleh rasa syukur, keyakinan itu sangatlah sederhana: “Kan Allah itu Maha Kaya,” begitu ia menutup percakapan. [ian/MCH]






