Lumajang (beritajatim.com)– Tari kaliwungu adalah tari daerah yang berasal dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Tarian ini dilestarikan oleh pewaris keturunan terakhir, seseorang bernama Senemo yang memulai karirnya pada tahun 1980 – 1990an. Perpaduan gerakan lembut khas jawa dan gerakan tegas khas Madura menjadi keunikan tari ini dibandingkan dengan tari topeng lainnya.
Seluruh gerakan tari Topeng Kaliwungu berlandaskan pada budaya Pandalungan dan memiliki keterikatan dengan tokoh Prabu Baladewa yang saat itu menjadi raja Madura. Raja Baladewa dikenal sebagai raja yang pemberani, berhati tulus, rendah hati, jujur, keras kepala dan mudah marah.
Tari Topeng Kaliwungu memiliki 18 gerakan yang harus dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Namun dari 18 gerakan, gerakan paling unik dari tari Topeng Kaliwungu yang memberikan karakteristik berbeda dari daerah lain adalah gerak cakilan.
Gerak cakilan pada tari Topeng Kaliwungu sangatlah ekspresif dan tegas. Hal ini terlihat pada gerakan tangan dan kepala yang patah – patah namun tetap tegas. Ekspresi gerakannya digambarkan selayaknya sebuah gerakan yang menunjukkan seolah – olah sedang mencangkul. Namun, dalam posisi mencangkul terbalik dari posisi mencangkul yang sebenarnya.
Gerak cakilan pada tari ini menggambarkan karakter Prabu Baladewa yang garang dan berani. Gerak cakilan yang ekspresif dan tegas mencerminkan karakter Prabu Baladewa yang selalu siap untuk menghadapi tantangan dan mempertahankan apa yang diyakininya.
Berikut adalah langkah – langkah gerak cakilan yang menjadi ciri khas dari tari Topeng Kaliwungu dan gerakannya sangat unik :
1. Kepala menghadap ke kanan, badan dihoyokkan ke arah kiri, tangan kanan tarik lurus kesamping kanan hingga sejajar bahu dan membuka selendang, tangan kiri bersiap di lutut sambil menarik sapu tangan.
2. Tangan kanan ditekuk ke depan dada dengan posisi telapak tangan terbuka. Tangan kiri ditekuk siku – siku di depan dada dengan jari – jari menggerakkan saputangan
3. Tangan kiri digerakkan seolah – olah sedang melempar sapu tangan ke atas diikuti tangan kanan. Lemparan tangan melebihi kepala dan kepala mengikuti. Gerakan ini adalah point penting dari gerak cakilan ini. Gerakan “mencangkul” ini dilakukan beberapa kali sesuai ketukan nada.






