Surabaya (beritajatim.com) – Sempat menjadi juara African Nations Championship pada 2014, kini sepakbola Libya terus mengalami penurunan performa. Semenjak dilanda konflik perang sipil pasca tergulingnya rezim Muammar Muhammad Abu Minyar al-Gaddafi,biasa disebut Muammar Khadafi, Timnas Libya terakhir kali menjadi semifinalis gelaran African Nations Championship pada tahun 2018 lalu.
Di antara para negara Eropa Utara (mayoritas didominasi ras Arab) seperti Maroko, Aljazair, Mesir, dan Tunisia, Libya menjadi negara dengan peringkat paling rendah per-12 Agustus 2021.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sepak-bola, libya”]
Mereka menduduki ranking ke-122 FIFA setelah ditahun 2012 berada pada ranking ke-36. Berbagai permasalahan yang melanda Timnas Libya mulai dari krisis kepelatihan hingga keterbatasan dalam pemilihan pemain untuk membela timnas berdampak besar bagi performa tim berjuluk ‘The Mediterranean Knights’ ini.
Terbaru, pada gelaran African Nations Championship 2020 yang diselenggarakan di Kamerun, langkah Timnas Libya harus terhenti di babak fase grup setelah menelan 3 kekalahan tanpa satupun kemenangan. Memang seluruh skuad yang disertakan pada gelaran itu oleh pelatih Zoran Filipovic adalah pemain dari liga domestik (Libyan Premier League).
Terhentinya langkah Timnas Libya di fase grup African Nations Championship 2020 merupakan kegagalan mengulang torehan manis sebagai juara ditahun 2014 silam. Berdasarkan data pertandingan yang dilakoni Timnas Libya di tahun ini, tidak sama sekali kemenangan didapatkan. Dari 7 pertandingan resmi di semua ajang, hanya dua kali hasil imbang, yakni diajang African Nations Championship 2020 melawan Niger dan Republik Demokratik Kongo.
Raihan ini tentu sangat memprihatinkan jika membandingkan Libya dengan negara-negara tetangganya yang sudah mampu menorehkan hasil prestasi. Dari seluruh anggota Union North African Football (federasi sepakbola negara-negara Afrika Utara), hanya Timnas Libya yang belum sekalipun tampil diajang Piala Dunia.
Pasca tergulingnya rezim Gadaffi, sepakbola Libya ikut mengalami perubahan. Mulai logo tim, hingga warna jersey kesebelasan. Salah satu mantan pelatih Timnas Libya pada tahun 2012, Marcos Paqueta mengungkapkan perubahan ini memiliki arti penting bagi seluruh pemain karena mereka bermain dengan spirit baru, semangat baru, untuk pemerintahan dan negeri barunya. Ungkapan ini terlontar setelah Timnas Libya melakoni pertandingan kualifikasi melawan Zambia. [adn/bjo]






