Malang (beritajatim.com) – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji mengaku telah melakukan koordinasi lintas kementerian untuk memasifkan pelaksanaan program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya). Program ini diharapkan dijalankan mulai dari kantor pemerintah hingga perusahaan swasta.
Wihaji mengatakan kementeriannya sudah bekerja sama dengan 6 kementerian lainnya dalam membuat Tamasya. Disisi lain dia juga terus mengajak setiap tempat usaha mengimplementasikan program Tamasya dengan menyiapkan layanan pengasuhan bagi anak para pekerja.
“Saya sudah bekerja sama dengan enam kementerian untuk membuat Taman Asuh Sayang Anak. Saya meminta untuk disiapkan sarana untuk Tamasya, terutama di pabrik yang pekerjanya banyak perempuan,” ujar Wihaji di Mini Blok Office di Kota Malang, Selasa, (12/8/2025).
Tujuan program Tamasya diterapkan di perusahaan demi memastikan setiap anak tetap mendapatkan pola pengasuhan yang layak dengan pengawasan langsung orang tua. Sehingga Tamasya ini serupa dengan fasilitas penitipan anak yang konsepnya sama dengan fasilitas day care di sejumlah daerah.
Para pengasuh yang disiapkan untuk mengoperasikan tempat penitipan anak Tamasya akan terlebih dahulu mengikuti program sertifikasi dari pemerintah. Sehingga Tamasya membuat orang tua lebih tenang.
“Sama (seperti day care). Untuk itu (sertifikasi) supaya memastikan tidak ada masalah,” ujar dia.
Disisi lain, Tamasya juga bagian dari menghindari pasangan yang memutuskan enggan memiliki anak atau child free. Data yang dia punya menyebut sebanyak 71 ribu perempuan. Tamsya dianggap sebagai salah satu solusi. Karena salah satu faktor child free adalah maslah ekonomi. Tamsya dibuat agar para ibu tetap bekerja sedangkan anak mendapat pola asuh yang layak.
“Saya menghormati keinginan sebagian dari mereka, tapi saya selaku menteri harus hadir memberikan solusi, maka jawabannya adalah dengan program Tamasya,” ujar Wihaji. (luc/ian)






