Jakarta Timur (beritajatim.com)– Menteri Sosial Tri Rismaharini (Mensos Risma) menekankan pentingnya membangun Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai salah satu solusi utama dalam menangani konflik sosial dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Diskusi Pegawai Berlatar Belakang Antropologi dan Psikologi yang diadakan di Gedung Aneka Bhakti Cawang Kencana pada Kamis (4/7).
“Jika ingin membangun, maka kita harus membangun manusianya,” ujar Mensos Risma.
Lebih lanjut, Mensos Risma juga mengungkapkan pentingnya asesmen yang tepat dalam menangani konflik sosial agar menghasilkan solusi yang efektif dan berkelanjutan.
Pandangan Mensos Risma tersebut diamini oleh Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Andik Matulessy. Menurut Andik, pembangunan SDM melalui pemberdayaan masyarakat merupakan kunci dalam menyelesaikan permasalahan sosial, termasuk konflik sosial.
“Saya setuju dengan Bu Menteri tadi bahwa kalau kita intervensi ke sebuah tempat, jangan sampai mereka bergantung kepada kita. Kita menjadi fasilitator agar mereka mampu menyelesaikan permasalahan sendiri,” kata Andik.
Asesmen dan Intervensi yang Tepat Menjadi Kunci
Dalam menghadapi konflik sosial, asesmen dan intervensi yang tepat menjadi kunci untuk menyelesaikannya. Pemahaman yang mendalam tentang akar permasalahan konflik menjadi krusial agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran.
“Jika asesmen benar, maka intervensi yang dilakukan pun benar,” ujar Direktur Politeknik Negeri Ambon Dady Maiuruhu.
Lebih lanjut, Andik Matulessy menambahkan bahwa asesmen harus mempertimbangkan kelebihan dan kekuatan pihak yang diintervensi. Intervensi yang tepat harus membawa perubahan positif, sekecil apa pun, bagi individu maupun masyarakat yang terlibat.
Upaya Pencegahan Konflik yang Berkelanjutan
Selain asesmen dan intervensi, upaya pencegahan konflik juga menjadi hal yang tak kalah penting. Konflik yang berulang dapat menimbulkan dendam dan memperpanjang permasalahan.
“Prevention atau pencegahan juga menjadi hal yang penting karena tiap terjadi konflik, maka akan timbul dendam dan berkepanjangan. Karena itulah penanganan juga harus merupakan upaya agar konflik tidak terjadi lagi,” kata Andik.
Diskusi Pegawai Berlatar Belakang Antropologi dan Psikologi
Kegiatan Diskusi Pegawai Berlatar Belakang Antropologi dan Psikologi ini merupakan wadah bagi para pegawai Kemensos yang memiliki latar belakang ilmu antropologi dan psikologi untuk saling bertukar ide dan pengalaman dalam menangani permasalahan sosial, khususnya konflik sosial.
Melalui diskusi ini, diharapkan dapat terjalin sinergi dan kolaborasi yang efektif dalam merumuskan solusi yang tepat dan berkelanjutan untuk menciptakan kesejahteraan sosial bagi masyarakat. [aje]






