Kupang (beritajatim.com) – Menteri Sosial Tri Rismaharini memberikan semangat dan dorongan kepada 18 korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam kunjungannya ke Sentra Efata Kupang. Di hadapan para korban, Mensos Risma menekankan pentingnya berusaha dan yakin akan pertolongan Tuhan dalam menghadapi kesulitan yang mereka alami.
“Tidak mudah bekerja di luar negeri. Saya tahu kalian kesulitan, tapi bukan berarti tidak bisa diselesaikan. Percayalah Tuhan akan membantu kita, Tuhan tidak tidur. Tuhan akan membantu kita jika kita berusaha, siapapun bisa sukses,” ujar Mensos Risma di hadapan para korban.
Kementerian Sosial bertindak cepat dalam menangani kasus ini. Sebanyak 18 perempuan korban TPPO ini sebelumnya diamankan oleh pihak berwenang di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pada Jumat (19/7), sebelum akhirnya dipulangkan ke NTT. Dalam upaya pemulihan dan pemberdayaan, Mensos Risma tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga membuka peluang usaha sesuai minat para korban. Ia menegaskan pentingnya pemberdayaan ekonomi agar mereka dapat mandiri dan tidak terjebak kembali dalam jerat perdagangan orang.
Mensos Risma memberikan kesempatan kepada para korban untuk tinggal di Sentra Efata selama mereka mengikuti pelatihan keterampilan seperti tata boga, pertanian, beternak, dan menenun. Pelatihan ini disesuaikan dengan minat dan kondisi daerah asal masing-masing korban, dan berlangsung selama satu hingga dua bulan, tergantung jenis pelatihannya.
Salah satu korban, Putri Aprilia Charisima (23), bersama 17 rekannya, berhasil kembali ke Kupang pada 30 Juli 2024. Putri mengungkapkan rasa harunya saat menceritakan kesulitan yang dihadapinya kepada Mensos Risma, terutama mengenai kekurangan air di kampung halamannya yang menghambat usaha pertanian keluarganya.
“Di tempat asal saya kesulitan air. Jadi meskipun memiliki lahan, tetap kesulitan untuk menanam,” kata Putri sambil menahan tangis.
Dalam kesempatan tersebut, Mensos Risma juga mendengarkan keluhan Sariyanti Ngongo (25), yang ingin bekerja di luar negeri demi membiayai orang tuanya yang sakit. Mensos Risma menawarkan solusi dengan membawa orang tuanya ke Sentra Efata untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Ia juga menekankan pentingnya menangani bukan hanya para korban, tetapi juga keluarga mereka, agar dukungan yang diberikan lebih menyeluruh.
Mensos Risma mendorong para wanita ini untuk mengikuti lebih dari satu jenis pelatihan, seperti tenun dan jahit sekaligus, guna meningkatkan keterampilan dan produktivitas mereka. Dengan berbagai dukungan ini, diharapkan para korban TPPO dapat bangkit kembali dan meraih kesuksesan di masa depan.
Mensos Risma berharap langkah-langkah yang diambil dapat memberikan perubahan positif dalam kehidupan para korban TPPO. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk melindungi dan memberdayakan masyarakat dari ancaman perdagangan orang. [rea/beq]






