Yogyakarta (beritajatim.com) – Memasuki musim penghujan, potensi bencana alam semakin meningkat seiring dengan tren intensitas curah hujan yang semakin tinggi. Kondisi di Jawa Timur (Jatim) bencana banjir hampir merata terjadi di beberapa kawasan.
Prof. Wahyu Wilopo, Pengamat Kebencanaan dari Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan bahwa kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Perubahan iklim telah meningkatkan curah hujan secara signifikan, sehingga berdampak pada tingginya risiko bencana di berbagai daerah.
“Intensitas hujan saat ini berbeda dengan dulu. Jika dahulu curah hujan mencapai 100 milimeter per jam, sekarang bisa mencapai 200 milimeter per jam. Ini tentu memberikan tekanan lebih pada lingkungan dan infrastruktur yang ada,” ujar Prof. Wahyu Wilopo.
Prof Wahyu menambahkan jika sebelumnya infrastruktur sudah dibuat dengan mempertimbangkan kapasitas curah hujan pada masa lalu seharusnya saat ini kondisi disesuaikan dengan potensi sekarang. Namun yang terjadi infrastruktur seperti sarana dan prasarana belum mendapatkan perbaikan atau istilahnya reevaluasi yang cukup.
Penyebab Utama Bencana: Infrastruktur dan Alih Fungsi Lahan
Selain curah hujan yang tinggi akibat perubahan iklim, faktor lain yang memperburuk kondisi bencana adalah desain sarana dan prasarana yang belum mengakomodasi perubahan tersebut. Infrastruktur seperti tanggul, gorong-gorong, dan drainase saat ini belum dirancang untuk menahan curah hujan dengan intensitas tinggi.
“Bencana seperti tanggul jebol dan banjir sering terjadi karena sarana prasarana tidak mampu menahan tekanan air yang meningkat. Over flow pun terjadi akibat desain yang belum diperbarui,” jelas Prof. Wahyu.
Faktor penyebab lain yang turut memengaruhi risiko bencana adalah maraknya alih fungsi lahan dan pemotongan lereng. Aktivitas manusia yang mengabaikan kondisi lingkungan sekitar membuat alam semakin rentan terhadap bencana.
Jalan Tol dan Pengaruhnya terhadap Bencana
Prof. Wahyu menilai bahwa pembangunan jalan tol sebenarnya tidak berdampak signifikan pada bencana karena umumnya dibangun di kawasan datar. Namun, pada kondisi tertentu, infrastruktur jalan tol juga perlu memperhatikan saluran air dan lingkungan sekitarnya agar tidak menimbulkan masalah.
“Pembangunan tol pada dasarnya sudah mempertimbangkan saluran yang ada. Namun, reevaluasi tetap diperlukan untuk memastikan semua infrastruktur mampu menghadapi curah hujan ekstrem,” tambahnya.
Solusi Jangka Pendek dan Panjang
Untuk mengatasi risiko bencana yang semakin meningkat, Prof. Wahyu menyarankan beberapa langkah konkret, di antaranya:
Reevaluasi dan Penguatan Infrastruktur: Sarana prasarana seperti tanggul, gorong-gorong, dan drainase perlu diperkuat dan diperbesar kapasitasnya.
Pengelolaan Daerah Pegunungan: Membuat aliran atau saluran air khusus di daerah pegunungan untuk mengurangi tekanan air berlebih.
Modifikasi Cuaca: Di beberapa daerah seperti Jawa Timur, curah hujan yang merata dapat diminimalkan dengan teknologi modifikasi cuaca.
Penguatan Lingkungan: Jika air tidak dapat dikontrol, maka lingkungan bawah harus diperkuat dan diakomodasi dengan sistem yang lebih memadai.
Pentingnya Budaya Siaga Bencana
Prof. Wahyu juga menekankan pentingnya membangun kesiapsiagaan jangka panjang dalam menghadapi bencana. Ini mencakup edukasi masyarakat, peringatan dini yang efektif, dan peningkatan respons masyarakat terhadap potensi bencana.
“Yang harus dilakukan adalah membangun manusia yang siap siaga. Peringatan dini lebih efektif jika dibarengi dengan kesadaran masyarakat. Ini menjadi tugas besar bagi pimpinan daerah yang baru untuk membangun sistem ini,” ujar Prof. Wahyu.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara berbagai pihak, termasuk warga, akademisi, swasta, dan pemerintah. Dengan kesadaran dan kesiapsiagaan yang baik, bencana dapat diantisipasi dan respons menjadi bagian dari budaya, seperti yang telah diterapkan di Jepang.
Bencana akibat curah hujan ekstrem semakin meningkat seiring perubahan iklim dan aktivitas manusia yang mengabaikan kondisi lingkungan. Solusi jangka pendek dan panjang, mulai dari penguatan infrastruktur hingga edukasi kesiapsiagaan bencana, menjadi kunci untuk menghadapi ancaman yang terjadi setiap tahun. Dengan sinergi dan kesadaran bersama, Indonesia diharapkan dapat mengantisipasi risiko bencana lebih baik di masa depan. [aje]






