Mojokerto (beritajatim.com) – Candi Brahu, salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Majapahit. Terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, candi ini menawarkan panorama sejarah yang memikat dan atmosfer tenang yang cocok untuk wisata edukatif.
Sejumlah wisatawan dan rombongan pelajar tampak antusias menjelajahi kompleks candi yang berdiri megah di tengah hamparan taman hijau. Tidak sedikit pengunjung yang mengabadikan momen dengan latar bangunan candi yang tersusun dari bata merah khas arsitektur Majapahit.
Menurut pengelola situs, Gono, kunjungan ke Candi Brahu mengalami peningkatan saat libur panjang akhir pekan. “Dalam sehari tidak sampai ratusan pengunjung, tapi kalau hari libur atau libur panjang baru ramai. Masyarakar umum, kalau pelajar seperti saat ini,” ungkapnya, Rabu (21/5/2025).
Mereka biasanya dari luar Mojokerto yang ingin mengenal lebih dekat sejarah Majapahit. Candi Brahu diperkirakan dibangun pada abad ke-15 dan digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja Buddha di masa lalu. Meski tidak ditemukan arca di dalamnya.
Struktur bangunan yang masih utuh menjadikannya salah satu candi terawat di wilayah Trowulan. Saat ini, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur tengah melakukan ekskavasi di Candi Brahu. Ekskavasi dilakukan sejak tanggal 13 sampai 28 Mei 2025 mendatang.
Eksvakasi difokuskan untuk mengungkap struktur pagar keliling sisi selatan candi peninggalan era Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Tujuannya untuk merekonstruksi dan melengkapi arsitektur Candi Brahu yang bercorak Buddha. [tin/but]






