Banyuwangi (beritajatim.com) – Pengrajin pandai besi di Banyuwangi masih bertahan hingg saat ini. Lokasi mereka menyebar di berbagai wilayah di Bumi Blambangan.
Rata-rata mereka merupakan para generasi penerus masa jaya pendahulunya. Bahkan, mayoritas dari mereka berusia menua.
Justru usia itu membuat akan hasil produksi yang berkualitas. Bahkan, membuatnya terus terjaga secara turun temurun. Alhasil, banyak pesanan bahkan hingga ke berbagai provinsi.
Sejauh ini banyak sentra pandai besi di Banyuwangi. Di antaranya di Desa Kabat Kecamatan Kabat, Desa Yosomulyo Kecamatan Gambiran, Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo, Desa Lemahbangkulon Kecamatan Singojuruh, Desa Sumberbaru Kecamatan Singojuruh.
Di tengah gempuran produk pabrikan, namun mereka tetap bertahan. Bahkan, tumbuh lebih inovatif demi menjaga persaingan pasar.
Kandar Nurhadi misalnya. Pengrajin pandai besi asal Dusun Kendal, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh ini telah memulai usahanya sejak puluhan tahun silam.
Hingga kini, Kandar tetap menerima pesanan. Berkat kualitas hasil produknya, dirinya berhasil mendapat kepercayaan pelanggan dari berbagai wilayah Banyuwangi dan Jember, hingga berbagai provinsi.
“Biasanya melayani pesanan dari Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Sumbawa. Mereka langsung pesan pada saya,” kata Kandar.
Di daerahnya, kata Kandar, yakni Dusun Kendal, Desa Sumberbaru memang telah lama dikenal sebagai kampung pandai besi. Di desa ini terdapat puluhan pandai besi yang membuat berbagai peralatan dapur berbagai ukuran.
Mulai dari pisau untuk potong buah, hingga pisau berukuran besar untuk potong daging. Ada juga produksi cangkul, celurit, sekop, dan lainnya.
Para pandai besi di desa ini juga bisa membuat aneka senjata untuk kebutuhan seni, seperti pedang atau golok dengan ukiran khusus pesanan.
“Biasanya kalau yang pesanan itu mintanya ada ukiran. Itu yang membuat butuh waktu agak lama. Saya pernah membuat pedang beserta selongsongnya dengan ukiran. Kalau harga tergantung tingkat kesulitannya,” jelas Kandar.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani sempat mengunjungi desa ini. Ipuk melihat langsung proses pembuatan perkakas yang dibuat para pandai besi di kampung ini.
“Kualitasnya sangat bagus dan kuat karena dibuat secara tradisional. Terbukti hingga kini pandai besi di kampung ini banyak menerima pesanan dan mampu bersaing dengan produk pabrikan,” kata Ipuk. [rin/aje]






