Jember (beritajatim.com) – Persebaya Surabaya sudah berkompetisi di Liga 1 sejak 2018. Menguji kepantasan Aji Santoso sebagai pelatih, saatnya Persebaya menjadi juara liga musim 2023-2024.
Dalam empat musim kompetisi, Persebaya selalu menembus enam besar atau papan atas. Musim 2018, Persebaya di urutan 5 dengan raihan 50 angka dari 14 kemenangan, 8 seri, 12 kekalahan. Mencetak 60 gol, Persebaya menjadi tim paling produktif kendati harus kebobolan 48 gol sepanjang musim.
Musim 2021-22, Persebaya kembali berada di peringkat 5 dengan raihan 63 poin dari 18 kemenangan, 9 hasil seri, dan 7 kekalahan. Mereka 56 kali mencetak gol dan 35 kali kebobolan. Jumlah gol ini terbanyak kedua musim itu, dan hanya terpaut satu gol lebih sedikit dari juara kompetisi Bali United.
Prestasi tertinggi Persebaya di Liga 1 adalah posisi runner-up musim 2019, di bawah Bali United. Saat itu Aji Santoso menggantikan Wolfgang Pikal pada pekan ke-26, dan berhasil membawa Persebaya melejit dari peringkat 10 klasemen sementara ke posisi pada akhir musim. Terpaut 10 angka dari sang juara Bali United, saat itu Persebaya mengepul 54 poin dari 14 kemenangan, 12 hasil seri, dan 8 kekalahan. Persebaya menjadi tim terproduktif kedua setelah Arema dengan 57 gol dan kebobolan 43 gol.
Persebaya meraih prestasi terburuk pada musim 2022-23 dengan menduduki peringkat 6. Alwi Slamat dan kawan-kawan hanya meraih 52 poin dari 15 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 12 kekalahan dengan mencetak 52 gol dan kebobolan 45 gol.
Sebenarnya target juara sudah dicanangkan pada musim 2020. Komposisi tim Persebaya saat itu adalah yang terkuat dibandingkan komposisi dua musim sebelumnya. Sebut saja nama Rivki Mokodompit di bawah mistar gawang, Makan Konate di posisi gelandang, Irfan Jaya, David da Silva, Patrich Wanggai, dan Mahmoud Eid di lini depan. Namun setelah menjalani dua pertandingan, kompertisi dihentikan karena pandemi.
Besarnya tuntutan Bonek kepada Persebaya untuk berprestasi sedikit-banyak memunculkan tekanan besar terhadap jajaran pelatih. Selama lima tahun terakhir, Persebaya bergonta-ganti pelatih, mulai dari Alfredo Vera, Djajang Nurjaman, Wolgang Pikal, Sugiantoro, hingga Aji Santoso. Namun hanya Aji yang dikontrak sejak 31 Oktober 2019 hingga 31 Maret 2024.
Data statistik Transfermarkt menunjukkan, kendati masa kepelatihan Aji terlama yakni 1.327 hari, capaiannya masih kalah dibandingkan Djajang Nurdjaman yang melatih selama 350 hari. Selama 350 hari menukangi Persebaya dalam 41 pertandingan, Djajang mencatatkan 21 kemenangan, 10 hasil seri, dan 10 kekalahan, dengan rata-rata poin 1,78 dan persentase kemenangan 51,22 persen.
Sementara Aji dalam 85 pertandingan, menghadirkan 42 kemenangan, 20 hasil seri, 23 kekalahan, dengan rata-rata 1,65 gol memasukkan dan 1,2 gol kemasukan. Rata-rata raihan poinnya 1,72 per pertandingan dan Persentase kemenangannya 49,41 persen.
Arek Malang itu harus membuktikan kepatutan kontrak tersebut musim depan ini. Perpanjangan kontrak atau berhenti sampai di sini akan tergantung banyak pada hasil akhir klasemen. Tahun 1997, ia menjadi kapten Persebaya saat menjuarai Liga Indonesia III. Kini ia memburu capaian Jacksen Tiago yang membawa Persebaya menjadi juara sebagai pemain dan pelatih. [wir]






