Tuban (beritajatim.com) – Di tengah hiruk-pikuk zaman yang serba cepat, di sebuah dusun kecil di Kabupaten Tuban, tradisi lama yang hampir punah mulai dihidupkan Kembali, Minggu (28/9/2025).
Dusun Janten, Desa Ngino, Kecamatan Semanding, menggelar lomba Tabuh Lesung sebagai upaya melestarikan warisan budaya yang pernah menjadi jantung kehidupan masyarakat setempat. Dalam lomba ini, suara keras tabuhan Lesung menggema kembali, bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai bentuk kebanggaan dan kecintaan terhadap tradisi yang telah lama terlupakan.
Lesung, sebuah alat tradisional berbahan kayu berongga yang dulunya digunakan untuk menumbuk beras dan jagung, kini telah menjadi simbol dari sebuah masa lalu yang semakin tergerus oleh teknologi.
Di Dusun Janten, di mana mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, lesung memiliki nilai lebih. Dulu, selain digunakan untuk pertanian, Lesung juga menjadi alat komunikasi yang sangat vital.
Sudarmi, seorang warga berusia 60 tahun, mengenang masa kecilnya ketika lesung dipakai sebagai kentongan untuk memanggil warga, terutama saat ada sapi hilang atau kejadian penting lainnya. Dengan suara tabuhan lesung yang lantang, informasi bisa tersebar cepat, meskipun tanpa ponsel di tangan.
“Dulu, kalau ada sapi hilang, kita tak perlu telepon. Cukup tabuh lesung, suara kerasnya bisa terdengar ke mana-mana,” ujar Sudarmi mengenang zaman yang jauh berbeda dengan sekarang.
Namun, kemajuan zaman membawa perubahan besar. Alat pertanian yang dulu bergantung pada lesung kini digantikan dengan mesin-mesin canggih. Alat komunikasi yang dulu mengandalkan lesung sebagai kentongan, kini digantikan dengan ponsel pintar yang bisa menjangkau seluruh dunia dalam sekejap. Lesung yang dulu memegang peranan penting kini hanya menjadi benda kenangan yang disimpan dalam ingatan.
Melihat budaya ini hampir punah, warga Dusun Janten merasa penting untuk melestarikannya. Dengan semangat gotong royong, mereka menggelar lomba Tabuh Lesung pertama kali yang diharapkan bisa menjadi agenda tahunan.

Sebuah langkah kecil, namun sangat berarti, untuk menjaga warisan nenek moyang agar tidak terkubur dalam sejarah. Sudarmi, yang menjadi peserta lomba, mengungkapkan kebahagiaannya bisa kembali menabuh Lesung, “Senang sekali, meskipun sudah tua, kita masih bisa menunjukkan budaya ini. Biarkan anak-anak muda tahu bagaimana rasanya menggunakan Lesung.”
Wawan Hariyadi, Kepala Desa Ngino, juga menambahkan, “Kami berharap lomba ini menjadi lebih dari sekedar ajang bergembira, tetapi menjadi bagian dari usaha untuk melestarikan budaya yang hampir hilang. Dulu, lesung adalah bagian dari hidup kami. Kini, kami ingin agar anak-anak muda mengenalnya kembali.”
Lomba ini memang didominasi oleh ibu-ibu dan lansia, tetapi sedikit demi sedikit anak-anak muda mulai tertarik untuk berpartisipasi. Wawan berharap, ke depan, lomba ini akan memiliki beberapa kategori, mulai dari tingkat remaja hingga dewasa, dan bahkan bisa menjadi festival tahunan yang melibatkan seluruh desa.
“Ini masih event pertama, jadi yang banyak berpartisipasi adalah ibu-ibu yang sudah lanjut usia, sementara anak muda lebih sering jadi pemandu vokal. Kami ingin ke depannya ini jadi festival besar, tidak hanya di satu dusun saja, tetapi melibatkan seluruh desa,” pungkas Wawan.
Lomba Tabuh Lesung di Dusun Janten bukan sekadar perlombaan. Ini adalah perayaan kembali sebuah tradisi yang selama ini terabaikan. Sebuah pengingat bahwa sejarah dan budaya, meskipun tertinggal jauh di belakang kita, tetap memiliki tempat di hati.
Melalui tabuhan lesung yang keras dan penuh semangat ini, Dusun Janten berusaha menyuarakan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi nenek moyang. Sebuah langkah kecil, namun penuh makna, untuk mengingatkan kita bahwa meskipun dunia terus berubah, budaya tak boleh terlupakan. [dya/suf]






