Surabaya (beritajatim.com) – Ratu Elizabeth Inggris, meninggalkan dan mengingatkan kepada kita semua akan sebuah simbol kekuasaan yang tidak lekang oleh perubahan dunia.
Pencapaian puncak Ratu Elizabeth II Inggris, yang meninggal pada Kamis (8/9) waktu Inggris adalah melanggengkan takhta monarki selama 70 tahun. Selama beberapa dekade perubahan politik, sosial dan budaya seismik dunia, terutama di Inggris membuat kekuasaannya diwarnai dengan anakronisme.
Selama masa kekuasaannya yang panjang, ratu Elizabeth II membantu mengarahkan institusi Inggris ke dunia modern, menanggalkan ritual pengadilan dan membuat hukum Inggris lebih terbuka dan mudah diakses. Beberapa jurnalis Inggris, seperti Michael Holden menggambarkan Ratu Elizabeth II sebagai orang yang tangguh.
Berjuang demi tatanan Inggris, meski beberapa kali keluarga kerajaan tidak memenuhi harapan publik. Namun ratu sendiri tetap menjadi simbol stabilitas yang diagungkan masyarakatnya.
Bagi sebagian besar penduduk bumi, Ratu Elizabeth II adalah personifikasi Inggris, namun beliau tetap memiliki batasan mengenai kehidupan pribadinya. Ratu tidak pernah memberikan wawancara dan jarang mengungkapkan emosi atau menawarkan pendapat pribadi di depan umum – seorang wanita yang diakui oleh jutaan orang tetapi hampir tidak dikenal oleh siapa pun.
“Saya pikir dia membawa kehidupan, energi, dan semangat untuk pekerjaan itu, dia berhasil memodernisasi dan mengembangkan monarki tidak seperti yang lain,” cucunya Pangeran William, yang sekarang menjadi pewaris takhta, mengatakan dalam sebuah film dokumenter televisi pada tahun 2012 (diambil dari AP).
Perjalanan Takhta Ratu Elizabeth II
Ratu Elizabeth muda awalnya bukan penerus langsung takhta kerajaan Inggris namun hal itu berubah ketika ia berusia 10 tahun. Setelah pamannya, Raja Edward VIII turun takhta pada tahun 1936 karena memililih Wallis Simpson yang seorang janda cerai dari Amerika, mahkota itu diberikan kepada ayahnya, George VI.
Ratu baru berusia 25 tahun ketika ayahnya meninggal dan dia menjadi Ratu Elizabeth II pada 6 Februari 1952 saat tur di Kenya bersama suaminya Pangeran Philip.
“Ini masalah pendewasaan yang biasa dialami seseorang dan menerima kenyataan bahwa di sinilah Anda berada dan ini adalah takdir Anda. Ini (takhta) adalah pekerjaan seumur hidup.” katanya dalam sebuah film dokumenter tahun 1992.
Selama Ratu Elizabeth II 70 tahun di atas takhta, Inggris mengalami perubahan dramatis.
Banyak peristiwa besar dunia yang harus ratu Elizabeth II hadapi. Mulai dari tahun 1950-an pasca perang dunia, kemudian masa-masa cukup sulit tahun 60-an, kepemimpinan Margaret Thatcher yang memecah belah Inggris di tahun 80-an, era buruh baru tiga periode Tony Blair, krisis ekonomi dan kemudian pandemi COVID-19.
Begitupun dengan perkembangan perspektif masyarakat Inggris, dimana feminisme mengubah sikap terhadap perempuan, dan Inggris menjadi masyarakat yang jauh lebih kosmopolitan dan multi-etnis.
Ratu Elizabeth II juga berada di atas takhta untuk peristiwa besar perang dingin dari kematian pemimpin Soviet Josef Stalin. Selama masa pemerintahannya ada 14 presiden AS, dari Harry S. Truman hingga Joe Biden.
Seiring waktu, Inggris berkembang menjadi masyarakat yang lebih egaliter, di mana kelas penguasa harus membuka jalan bagi kelas menengah yang sedang berkembang. Bangsawan tidak lagi mendominasi universitas-universitas top dan mayoritas bangsawan turun-temurun kehilangan kursi kekuasaan mereka di House of Lords parlemen.
Ratu Elizabeth II adalah pribadi yang cerdas dan visioner
Pada awalnya, Ratu Elizabeth II sangat bergantung pada penasihat lama mendiang Raja terdahulu. Tetapi Ratu dan suaminya, Philip berusaha mengubah tatanan Inggris menjadi monarki yang lebih modern, sehingga secara bertahap dia membawa lebih banyak diplomat karir dan eksekutif bisnis ke istana.
“Dia cerdas, dia penyayang, dia memiliki banyak wawasan, dan dia memiliki kebajikan khas dan tradisional yang Anda kaitkan dengan Inggris,” kata mantan Perdana Menteri John Major di tengah perayaan untuk menandai ulang tahunnya yang ke-90 (dikutip dari Reuters).
“Jika Anda merancang seseorang untuk menjadi raja di Inggris, saya pikir Anda akan merancang seseorang persis seperti Elizabeth II,” lanjutnya.
Ratu juga menanggapi kritik pada tahun 1992 tentang kekayaan kerajaan dengan menawarkan membayar pajak penghasilan dan memotong jumlah anggota keluarganya dalam daftar gaji negara.
[berita-terkait number=”4″ tag=”meninggal dunia”]
Ratu Elizabeth adalah pribadi yang menyenangkan
Banyak kritikan mengenai dugaan pribadi Ratu yang tertutup dan terlalu serius. Para kritikus mengatakan momentum satu-satunya Ratu menunjukkan emosinya yang nyata di depan umum adalah ketika para bangsawan mengucapkan selamat tinggal dengan penuh air mata ke kapal pesiar megah Britannia, beberapa bulan setelah tanggapannya yang tenang terhadap kematian Diana.
Namun menurut orang-orang yang bekerja sama dengannya secara pribadi, Ratu bukanlah figur publik yang selama ini banyak dinilai orang-orang, tetapi beliau sangat hangat, lucu, dan menyadari suasana hati rakyat Inggris.
Melansir Reuters, seorang mantan petugas perlindungan, Richard Griffin, menceritakan awal tahun ini bagaimana dua turis Amerika mendekati Ratu di Skotlandia dan tidak mengenalinya. Ketika para turin itu mengetahui bahwa ia adalah Ratu Elizabeth, Griffin kemudian setuju untuk memotret para turis dengan ratu.
Griffin berkata bahwa sang ratu kemudian bercanda bagaimana dia akan senang menjadi lalat di dinding ketika para turis itu menunjukkan foto-foto mereka kepada teman-teman mereka. (Kai/ian)






