Surabaya (beritajatim.com) – Sejauh ini, sebagian besar kalangan muda masih jarang mendengar bahkan kurang mengerti dengan kehadiran dan keberadaan media zine. Hal pertama yang akan terbesit dalam pemikiran mereka saat melihat zine pertama kali tentu sebutan bahwa media ini merupakan buku dan majalah. Wajar memang jika masih banyak kalangan muda kurang tepat secara penyebutan, karena media ini tidak sepopuler keberadaan media literasi lain macam koran, buku, majalah, tabloid maupun buletin.
Sebagai sebuah media literasi alternatif, kehadiran zine sudah cukup lama ada di Indonesia. Fanzine yang kemudian disingkat menjadi zine mulai muncul saat rezim orde baru berkuasa. Membawa semangat untuk melawan kediktaktoran penguasa dan dominasi dari media mainstream serta kebebasan mengutarakan aspirasi/argumentasi menjadi salah satu pemicu munculnya media ini. Mengingat pada era itu, masyarakat sangat susah untuk dengan leluasa mengutarakan aspirasi dan argumentasi terhadap segala kebijakan pemerintah.
Masyarakat “terkungkung” pada kontrol penuh dari pihak penguasa. Media massa senantiasa diawasi ketika menyiarkan pemberitaan yang kemudian membuat masyarakat tidak memiliki wadah untuk mencurahkan segenap aspirasi/argumentasi mereka. Berbagai macam literasi seperti buku, majalah dan lainnya sebisa mungkin mendoktrin masyarakat untuk simpati kepada penguasa negara melalui narasi yang termuat di dalamnya.
Pasca runtuhnya rezim orde-baru. Zine berkembang pesat ke berbagai kota besar di Indonesia. Selain Jakarta, adapula Bandung, Jogjakarta hingga Surabaya dimana media ini mulai mendapatkan atensi kalangan muda. Bahkan di negara barat, zine telah menjadi kajian oleh seorang profesor kajian media dan budaya dari New York University bernama Stephen Duncombe. Salah satu bukunya yang berjudul Notes From Underground: Zines and the Politics of Underground Culture membuka wawasan lebih luas akan media ini.
Lantas, apakah zine berbeda dengan media literasi konvensional (ex: buku, majalah, dll.)?. Apa sajakah perbedaannya antara zine dengan berbagai media literasi lain? Pertama, ketika berbicara dari segi bahan (cover, isi halaman) kebanyakan menggunakan kertas HVS. Kedua, isi konten yang termuat dalam suatu zine bebas dan tidak harus mengacu pada kaidah-kaidah penulisan tertentu. Ketiga, secara desain dan tampilan. Keempat, untuk proses produksi hingga distribusi, hampir keseluruhan dilakukan oleh pembuat zine itu sendiri. [adn/bj0]






