Surabaya (beritajatim.com) – Dalam dunia psikologi stockholm syndrome dikenal sebagai strategi koping yang dikembangkan oleh individu yang menjadi korban. Entah itu korban penculikan, pelecehan, teror, atau kekerasan lainnya. Para ahli mengungkapkan jika hal itu merupakan salah satu cara korban untuk menangani perasaan takut yang berlebihan pada situasi tersebut.
Situasi ini bisa saja terjadi jika dari pihak korban atau sandera dengan pelakunya kemudian memiliki hubungan dengan tingkat emosional yang cukup tinggi. Dalam beberapa kasus ini disebabkan karena keterikatan yang terjalin akibat menghabiskan waktu bersama. Mulai dari beberapa hari, minggu, hingga bahkan tahunan.
Hal tersebut juga yang kemudian dapat merubah kondisi mental seseorang. Meski di sisi lain ada perasaan takut, namun tidak dipungkiri jika para korban ini juga menggantungkan diri pada para pelaku. Tak ayal jika para pelaku penculikan tersebut melakukan sedikit kebaikan, maka para korban akan menilainya sebagai sesuatu yang positif atas belas kasihan tersebut.
Seiring berjalannya waktu persepsi buruk kemudian berubah atau membentuk kembali cara pandang para korban terhadap pelaku. Hanya karena merasakan kebaikan dan kasih sayang, bahkan seseorang yang menjadi korban bisa merasa kasihan hingga mungkin menaruh rasa hormat ke penculik tersebut. Tak ayal inilah kemudian yang disebut sebagai stockholm syndrome.
Beberapa hal yang mungkin saja terjadi pada orang yang mengalami stockholm syndrome, di antaranya ialah menjadi mudah stres atau depresi setelah bebas dari kejadian tersebut hingga mengalami gangguan tidur atau insomnia berkepanjangan. Selain itu, para korban yang sudah keluar dari jeratan pelaku justru memiliki komplikasi lain, seperti lebih mudah terkejut, linglung, hingga jadi sulit percaya terhadap orang lain.
Untuk mengatasi komplikasi tersebut maka yang perlu dilakukan ialah psikoedukasin yang empatis yakni memberikan pengertian terkait stockholm syndrome tersebut. Hal ini bisa dilakukan oleh orang tua maupun orang-orang terdekat yang peduli terhadap penyintas. Sebisa mungkin hindari polarisasi atau pemberian nasihat kepada korban. Maka berikan kesempatan pada mereka untuk membuat keputusannya sendiri.
Hal lain yang bisa dilakukan untuk membantu para stockholm symdrome ialah dengan menangani disonasi kognitifnya. Ini bisa dilakukan dengan cara mendengarkan semua persepsi yang diyakini penyintas kekerasan terhadap pelaku. Biarkan ia mulai merenunginya hingga ia mungkin mulai memahami dan sadar dengan kondisinya sendiri. Cara terakhir ialah dampingi mereka untuk mencari bantuan terkait kesehatan mentalnya. [fyi/esd]






