Surabaya (beritajatim.com) – Ecstatica, sebuah ruang bagi para penulis naskah lakon dan aktor hadir di Surabaya. Kelas kepenulisan ini dibentuk untuk menciptakan ruang dialektika dan diskursus yang mempertemukan penulisan naskah dan pelaku peran.
Di samping itu, hadirnya Ecstatica alias Ecstacy of Dialectica ini juga sebagai solusi dari persoalan masih minimnya minat penulisan naskah di Indonesia. Terlebih, apresiasi bagi para penulis naskah pun juga masih sangat minim.
“Memang penulisan naskah di Indonesia masih belum benar-benar dipandang sebagai satu kerja profesional, karena memang banyak naskah yang ditulis sebagai naskah pentas yang hanya bisa dikonsumsi publik saat narasi visualnya jadi,” ujar Ading, pelaku seni Ecstatica, Selasa (4/7/2023).
Ia mengungkapkan bahwa pembaca naskah lakon juga tidak banyak. Hal itu yang semakin membuat minimnya apresiasi bagi penulisan naskah. Untuk itu, Ecstatica hadir sebagai ruang apreasiasi para penulis naskah agar naskah nya bisa dibaca oleh reader (aktor) dari mana saja.
“Karena jika kesulitan menciptakan segmen pasar atau orang yang mau membaca, setidaknya ada satu segmen pasti bagi naskah-naskah lakon, yakni para aktor yang sudah seyogjayanya menjadi pembaca pertama atas naskah itu,” katanya.
Oleh sebab itu, lanjut Ading, sejak enam bulan lalu Ecstatica getol mendekatkan naskah lakon pada pembacanya, yakni dengan mengadakan program Dramatic Sunday yang dilaksanakan per dua minggu sekali.
Sampai hari ini, Dramatic Sunday telah berjalan sebanyak 13 episode. Program dramatic tersebut dilakukan secara daring melalui siaran live Instagram @ecsta_tica, yang nantinya juga akan diupload ke Youtube.
Dramatic Sunday adalah program yang mengajak aktor untuk membacakan naskah secara dramatical. Naskah-naskah yang dibawakan Dramatic Sunday merupakan karya-karya baru dari penulis-penulis lakon muda, yang telah dikurasi terlebih dahulu. Readers pun berasal dari berbagai kota, seperti Jakarta, Bandung, Jambi, Surabaya, Yogyakarta, Madura dll.
“Kami fokus pada naskah-naskah baru dan atau dari penulis-penulis baru, juga sengaja mengajak readers dari berbagai kota. Karena Ecstatica ingin menyentuh dan mengapresiasi sebanyak mungkin dan seluas mungkin dunia kepenulisan naskah dan selain itu juga memberikan ruang kreasi bagi para readers yang kebanyakan aktor untuk berkarya,” ungkap Ading.
Dramatic Sunday pun memiliki dua sesi, yakni Dramatical Reading dan Idea Discussion. Dalam Dramatical Reading, Rio menjelaskan bahwa sesi tersebut ditujukan untuk mendekatkan naskah lakon pada pembaca pertamanya (aktor).
Sedangkan untuk sesi Idea Discussion, ruang dialektika dan diskursus yang merupakan sesi untuk mensirkulasikan ide atau gagasan yang diusung naskah pada realitas. Pada dasarnya, program ini mengupayakan apreasiasi yang optimal atas suatu karya.
“Maka, mengajak reader untuk membaca naskah adalah satu bentuk apresiasi paling mudah untuk dilakukan, apresiasi tahap selanjutnya adalah bagaimana gagasan yang diusung naskah juga bisa tersirkulasikan lebih luas hingga menyentuh realitas, karena setiap karya adalah produk rasionalitas,” terang Ading.
Selain program Dramatic Sunday, Ecstatica juga memiliki program launching dua artikel yang rilis tiap dua minggu sekali, yakni Resume Dramatic Sunday dan Ecstatica Thought. Resume Dramatic Sunday merupakan artikel resume episode Dramatic Sunday yang telah ditayangkan. Sedangkan Ecstatica Thought adalah rilis artikel terkait penulisan naskah dan keaktoran secara lebih luas dan aplikatif. [ipl/kun]
BACA JUGA:






