Ringkasan Berita:
- Ponpes Salafiyah Syafiiyah Khoiriyah Seblak melalui Program Literasi Terpadu mendorong santri menjadi generasi penulis.
- Diskusi dan workshop penulisan menghadirkan Alfian Bahri dan Donny Darmawan untuk membimbing santri menulis cerpen dan literasi kreatif.
- Program Literasi Terpadu mengedepankan kolaborasi dengan komunitas literasi untuk memperkuat kemampuan menulis guru dan santri.
Jombang (beritajatim.com) – Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syafiiyah Khoiriyah Hasyim Seblak Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang semakin mantap dalam membangun generasi santri yang mahir menulis.
Melalui Program Literasi Terpadu, Ponpes ini menekankan pentingnya kemampuan literasi bagi guru dan santri sebagai pilar budaya menulis. Dua hari setelah peringatan Hari Buku Nasional pada 17 Mei, tepatnya 19 Mei 2026, Ponpes menggelar rangkaian diskusi dan workshop penulisan untuk meningkatkan keterampilan menulis santri.
Diskusi bertema ‘Pendidikan, Buku, dan Catatan-Catatan Di Dalamnya’ menghadirkan Alfian Bahri, aktivis pendidikan sebagai pemantik pertama, dan Donny Darmawan, editor serta penulis Suarts, sebagai pemantik kedua.
Cak Fan dari Rombong Pentol Literasi Nusantara bertugas sebagai moderator. Forum Taman Baca Masyarakat Jombang turut terlibat sebagai mitra dalam kegiatan ini.
Selama dua jam, diskusi berlangsung hangat di Food Court Ponpes. Santri, guru, dan komunitas literasi saling bertukar pandangan terkait kondisi pendidikan dan gerakan literasi.
“Untuk itu, penting kiranya dengan memulai memaknai pendidikan dan buku, dengan budaya menulis. Karena dengan menulis itu menjadi bukti isi dari pikiran kita. Sehingga bisa dijadikan bahan dalam membangun kritisisme di sekolah dan antar komunitas literasi. Selain itu pula menulis adalah bentuk ketertiban cara berfikir kita,” kata Alfian Bahri.
Donny Darmawan menambahkan, menulis sebaiknya dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menarasikan aktivitas sehari-hari. Latihan ini membantu santri dan guru mengasah kemampuan menyampaikan sudut pandang sekaligus menjadi nilai tambah portofolio akademik.
Mencetak Generasi Santri Penulis

Pada pukul 19.30 WIB, workshop penulisan dimulai di Aula Lantai 2 MA Ponpes. Alfian Bahri memandu santri dalam menyusun ide, metode menulis cerpen, dan teknik penulisan kreatif, dibantu Donny Darmawan sebagai moderator.
Para santri menulis cerpen sederhana, membaca karya mereka, dan mengikuti sesi tanya jawab yang cukup kritis mengenai peluang dunia kepenulisan dan cara membuat pembaca larut dalam cerita.
“Pertama, menulis itu penting. Karena jika teman-teman menjadi penulis buku, atau penulis lainnya, peluang ekonomi masih terbuka lebar. Dan angkanya bisa cukup lumayan. Jadi latihan untuk terus menulis itu penting,” ungkapnya.
“Agar nanti kita bisa membuka peluang ekonomi itu. Kedua, untuk membuat pembaca terbawa dalam cerita kita, harus terus berlatih memainkan imajinasi agar plot twist cerita bisa tersampaikan dengan baik,” jelas Alfian Bahri.
Menurut Deden Fardan Hamdani, Direktur Bidang Pendidikan dan Madrasah Yayasan Ponpes Salafiyah Syafiiyah Khoiriyah Seblak, kegiatan ini memperkuat fondasi Program Literasi Terpadu dan membuka peluang kolaborasi dengan komunitas literasi.
“Kolaborasi ini menjadi modal penting kami dalam menambah wawasan serta pengalaman bagi para guru dan santri yang akan menjadi pilar budaya berliterasi di Ponpes. Sehingga ruang-ruang diskusi dan sejenisnya juga bagian penting di Program Literasi Terpadu kami,” ujar Deden. [suf]






