Mojokerto (beritajatim.com) – Berawal dari hobby bertanam, warga Desa Kedung Maling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini sukses budidaya tanaman anggur. Dari pekarangan belakang rumahnya berukuran 25×12 meter2, kini Aan Iqbal (40) sudah berhasil menghasilkan cuan dari hobby.
Budidaya tanaman anggur sudah ditekuni sejak tahun 2018 lalu, ini setelah ia harus tinggal di rumah warisan orang tuanya karena sebagai anak bungsu. Kini, di tahun kelima bungsu dari delapan bersaudara ini berhasil membudidayakan sekitar 50 jenis tanaman anggur.
“Saya pertama kali tertarik budidaya anggur karena faktor senang, jadi awalnya memang hobby tapi ternyata kok punya potensi ekonomi yang akhirnya semakin membuat semangat untuk mengembangkan. Modal dengkul awalnya karena basic saya di pendidikan,” ungkapnya, Sabtu (7/10/2023).
Di pekarangan belakang rumahnya, budidaya tanaman anggur dilakukan bapak dua anak ini. Mulai dari pembibitan hingga tanaman anggur siap dipanen. Di tempatnya, ia menggunakan dua jenis pembibitan yakni dengan proses okulasi dan ownroot.
BACA JUGA:
Rumah di Sekargadung Mojokerto Terbakar
“Okulasi itu pembibitan dengan cara penempelan atau penyambungan batang bawah dan batang atas dan ownroot itu jenis pembibitan yang menggunakan batang bawah. Pembibitan dari biji, bisa tapu kemungkinan buahnya kecil. Dulu pernah tanam dari biji, tiga tahun belum berbuah,” katanya.
Iqbal mengaku, awalnya bibit-bibit tanaman anggur miliknya dibeli namun saat setelah melakukan penelitian hampir tiga tahun, kini sudah berhasil membudidayakan sendiri. Ia menanam tanaman anggur khusus untuk digunakan batang bawah yang kemudian proses penyambungan dengan beberapa jenis.
“Satu batang bawah lebih baik untuk satu varian, pernah sampai delapan tapi hasilnya kurang maksimal. Karena tiap jenis beda-beda karakternya. Lebih baik satu pohon, satu jenis, satu batang bawah. Bibit yang sudah kami seleksi dan kami perbanyakan sekitar 50-an dari 200 an,” tuturnya.
Hingga saat ini, jenis tanaman anggur yang dibudidayakan Iqbal ada sekitar 50-an jenis dari sekitar 200-an jenis yang telah diseleksi. Penyeleksian jenis tanaman anggur tersebut sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu dan hasilnya ada sekitar 50-an jenis anggur yang layak dibudidayakan di wilayah tropis seperti Indonesia.
“Karena sebelumnya anggur hidupnya di sub tropis jadi tidak semua jenis anggur itu bisa dikembangkan dan tumbuh dengan baik di wilayah tropis. Bibit ini ada yang dari Benua Eropa, Benua Amerika dan ada Benua Asia. Seperti Jepang, Ukraina, Rusia, India, Thailand, China. Kalau anggur di Indonesia, di wilayah tropis bisa panen sepanjang tahun,” ujarnya.
BACA JUGA:
Sekdakab Mojokerto Ingatkan Pentingnya Netralitas ASN Jelang Pemilu Serentak 2024
Iqbal menjelaskan, jika keunggulan budidaya tanaman anggur di wilayah tropis bisa panen sepanjang tahun. Sementara di daerah sub tropis, tanaman anggur hanya bisa dipanen saat di musim panas saja. Sehingga budidaya tanaman anggur di wilayah tropis bisa dibuahkan sesuai dengan keinginan.
Setelah ada bibit, lanjut Iqbal, harus ada media tanam yang disiapkan terlebih dahulu. Ini lantaran dalam proses penanaman, media tanam yang digunakan membutuhkan beberapa komposisi. Yakni kompos yang sudah terfermentasi, arang, tanah hunus bisa dari sekitar bambu atau endapan sungai dengan perbandingannya 1 : 1 :1.
“Untuk 1 meter kubik media tanam, dicampur dengan dolomit dan gipsum sebanyak 1 kg. Tujuannya menetralisir PH dan menyediakan kalsiun serta menjaga porositas tanah sehingga sirkulasi oksigen ke tanah lancar. Yang wajib dilakukan media tanam, karena 60 persen pengaruhnya kita menanam,” jelasnya.
Selain harus memperhatikan media tanam, Iqbal menjelaskan, jika budidaya tanaman anggur juga membutuhkan perawatan, meliputi pemupukan dan penanggulangan penyakit. Pemupukan ada dua, yakni sistem kocor bawah di akar dan penyemprotan. Penanggulangan penyakit dengan insektisida.
“Yakni dengan obat insektisida dan jamur, itu pengobatannya dengan penyisikan. Kalau perawatan bagus, tanaman anggur usia enam bulan sudah bisa dipanen. Usianya bisa sampai 350 tahun, tapi buah yang bagus mulai 2 tahun sampai 15 tahun. Tanaman anggur layaknya seperti manusia yakni memiliki macam-macam karakter,” tuturnya.
Iqbal menyebut, ada yang ketahanan penyakitnya tinggi, ada yang ketahanan air tinggi, tidak tahan penyakit dan lannya. Penyakit tanaman anggur menyerang akar, tidak kelihatan, busuk di akar kemudian mati. Sehingga ia menyarankan lebih baik memang pakai restok impor, mahal tapi tahan terhadap penyakit.
“Potensi anggur sudah berbuah mulai umur 1 tahun minimal 5 kg per pohon, dalam setahun antara 70 kg sampai 80 kg. Tahun ini, baru bisa panen. Tahun kemarin sudah bisa panen tapi terbentur hujan jadi gagal panen. Mulai bulan Agustus lalu dan bisa panen terus menerus, tidak kenal musim,” paparnya.
Iqbal fokus budidaya tanaman anggur. Selain dijual dalam bentuk buah, ia juga menjual bibit tanaman anggur. Untuk harga tergantung jenisnya. Harga bibit tanaman anggur dijual mulai Rp100 ribu sampai sampai Rp2,5 juta, sedangkan untuk buah dijual mulai harga Rp100 ribu sampai Rp350 ribu per kg.
“Misal 70 kg per pohon kali Rp100 ribu, di sini ada 50 an pohon, sudah bisa dikalikan. Alhamdulilah cukup kebutuhan keluarga dan pengembangannya karena saya juga menjual dalam bentuk bibit tanaman anggur,” pungkasnya. [tin/beq]








