RINGKASAN BERITA:
- Perangkat digital ‘Bravo’ menjadi tulang punggung koordinasi bus shalawat di Makkah selama 24 jam nonstop.
- Petugas Markas Monako memantau pergerakan armada secara real-time melalui integrasi GPS dan peta digital.
- Sistem ini mempercepat respons penjemputan jika bus keluar rute atau terjadi penumpukan jemaah di terminal.
- Pencatatan manual ‘Retase’ melengkapi pengawasan digital untuk memastikan ketepatan waktu frekuensi perjalanan.
Makkah (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengoptimalkan penggunaan perangkat komunikasi digital bernama “Bravo” untuk memantau operasional bus shalawat secara real-time selama 24 jam nonstop bagi jemaah haji Indonesia di Makkah.
Alat komunikasi ringkas ini menjadi tulang punggung koordinasi lintas sektor guna memastikan mobilitas jemaah tetap aman dan lancar, terutama di tengah suhu ekstrem Makkah yang menyentuh angka 42 derajat Celsius.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, perangkat berwarna hitam yang dilengkapi layar sentuh ini menghubungkan petugas di terminal, halte, hingga pusat kendali.
Hingga fase kedatangan jemaah yang kini telah mencapai lebih dari 138.000 orang di Tanah Suci, kecepatan respons petugas melalui perangkat ini menjadi kunci pencegahan penumpukan jemaah di terminal-terminal utama seperti Syib Amir dan Jabal Ka’bah.
“Terminal Syib Amir, Wakil Komandan Syib Amir, markas monitor,” ucap Syamsul Jamal sambil menggenggam Bravo di tangannya. Tak berselang lama, balasan terdengar nyaring, “Masuk, masuk, masuk.” Percakapan ini berakhir dengan laporan kondusifnya situasi di lapangan, menandakan sinkronisasi data antara personel di titik terjauh dengan pusat komando berjalan sempurna.
Syamsul Jamal, pengendali layanan bus shalawat, menjelaskan bahwa Bravo bukan sekadar alat komunikasi suara. Perangkat ini terintegrasi dengan sistem tracking GPS yang terpasang di setiap armada bus. Melalui pantauan di Markas Monako (Monitoring Antar Kota) Makkah, petugas dapat mendeteksi jika ada bus yang keluar rute atau mengalami kendala teknis di jalur padat.
“Kami pergunakan Bravo sebagai alat komunikasi setiap saat, 24 jam non-stop untuk memantau pergerakan jemaah dan pelayanan para petugas yang berada di terminal maupun di halte-halte ataupun di wilayah-wilayah sektor,” kata Syamsul kepada tim Media Center Haji (MCH), dikutip Rabu (13/5/2026).
Jika terjadi gangguan, laporannya akan diteruskan secara berjenjang dari wilayah ke terminal hingga markas untuk ditindaklanjuti dengan langkah pengawalan atau penjemputan jemaah.
Selain sistem digital, PPIH tetap mengombinasikan pengawasan dengan metode manual melalui catatan “Retase”. Petugas di setiap halte dan terminal wajib mencatat waktu kedatangan serta keberangkatan bus secara rinci. Data ini sangat krusial untuk mengevaluasi frekuensi perjalanan dan memastikan jemaah tidak menunggu terlalu lama di bawah terik matahari yang menyengat.
Wakil Kepala Pos Terminal Jabal Ka’bah, Yusof Ridho Anshari, mengakui efektivitas perangkat ini saat terjadi lonjakan jemaah dari Sektor 6 Jarwal dan Sektor 10 Aziziyah. Koordinasi cepat via Bravo mempermudah permintaan tambahan armada cadangan kepada pihak syarikah melalui pusat kendali. “Kami selalu menggunakan Bravo dan sangat membantu kami, utamanya ketika membutuhkan bantuan,” ujarnya.
Dengan kesiagaan 24 jam melalui ekosistem digital ini, Kemenhaj berupaya memastikan seluruh jemaah dapat beribadah di Masjidil Haram dengan nyaman. Koordinasi yang presisi melalui Bravo diharapkan mampu menekan risiko kelelahan fisik jemaah menjelang pergerakan masif menuju puncak haji di Arafah pada akhir Mei mendatang. [ian/MCH]






