Surabaya (beritajatim.com) – Industri musik merasa berduka atas kepergian musisi legendaris, Sinead O’Conner, yang menghembuskan nafas terakhir pada Kamis (27/7/2023). Sebelumnya, Sinead sempat mengaku bahwa dirinya mengalami agoraphobia.
Meski penyebab kematian Sinead O’Conner belum diketahui secara pasti, namun tak bisa dipungkiri bahwa perjalanan hidupnya telah dipenuhi dengan tantangan dan kesulitan, terutama setelah putranya mengalami tragedi bunuh diri pada bulan Januari lalu.
Pada Oktober 2020, melalui cuitannya di Twitter, Sinead juga mengungkapkan bahwa ia mengalami agoraphobia, sebuah kondisi ketakutan yang membuatnya kesulitan berada di tempat-tempat tertentu ketika tidak ada bantuan yang tersedia.
Bagi sebagian orang, agoraphobia mungkin terdengar asing. Untuk itu, mari kita kenali lebih dekat apa itu agoraphobia, faktor-faktor pemicunya, serta metode pengobatannya.
Pengertian Agoraphobia
Agoraphobia adalah salah satu jenis gangguan cemas yang menyebabkan ketakutan dan kekhawatiran berlebih saat berada di tempat yang membuat penderitanya merasa sulit untuk pergi atau meminta bantuan dari orang lain.
BACA JUGA: Musisi Legendaris Sinead O’Connor Hembuskan Nafas Terakhir di Usia 56 Tahun
Pengidap agoraphobia sering mengalami serangan panik dan kecemasan saat berada dalam perjalanan, menggunakan transportasi umum, berada di tempat tertutup seperti pusat perbelanjaan dan bioskop, tempat terbuka seperti jembatan dan area parkir, atau berada dalam kerumunan dan antrean. Akibatnya, mereka cenderung menghindari tempat atau situasi tersebut, yang bisa mengganggu kehidupan sosial dan pekerjaan mereka.
Penyebab Agoraphobia
Hingga saat ini, penyebab pasti agoraphobia masih belum diketahui. Namun, para ahli menduga bahwa ada hubungan antara agoraphobia dengan riwayat gangguan panik, gangguan cemas dengan serangan panik, dan situasi tertentu yang memicu rasa takut berlebih.
Gangguan panik, yang juga bisa menjadi penyebab agoraphobia, kemungkinan terkait dengan faktor genetik dan peristiwa traumatis atau stres dalam kehidupan sebelumnya.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko agoraphobia antara lain:
- Wanita lebih rentan mengalami agoraphobia daripada laki-laki.
- Usia antara 25 hingga 30 tahun.
- Riwayat gangguan psikiatrik lainnya, seperti gangguan panik, gangguan kecemasan sosial, phobia lain, gangguan kecemasan umum, dan gangguan penggunaan zat.
- Reaksi berlebihan terhadap serangan panik dengan menghindari situasi yang memicu ketakutan.
- Mengalami peristiwa hidup yang penuh tekanan, seperti pelecehan, kematian orang tua, atau kekerasan.
- Sifat kepribadian cemas atau mudah gugup.
- Memiliki anggota keluarga dengan riwayat agoraphobia.
Pengobatan Agoraphobia
Pengobatan agoraphobia umumnya melibatkan pendekatan psikoterapi, dengan penggunaan obat-obatan yang sesuai dengan rekomendasi dokter, serta perubahan gaya hidup.
Terapi kognitif perilaku (CBT) sering menjadi pilihan utama untuk mengatasi agoraphobia. Terapi ini membantu penderitanya mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku negatif yang terkait dengan ketakutan dan kecemasan. Selain itu, dokter juga dapat meresepkan obat antidepresan atau antianxiety untuk membantu mengurangi gejala-gejala agoraphobia.
Penting untuk mencari bantuan medis jika kalian atau orang terdekat mengalami gejala agoraphobia. Dengan pengobatan dan dukungan yang tepat, penderita agoraphobia dapat menghadapi tantangan tersebut dan memperoleh kualitas hidup yang lebih baik. (mnd/nap)






