Surabaya (beritajatim.com) – Literasi digital merupakan pemahaman yang wajib dimiliki pada era revolusi industri 4.0. Belakangan ini kementerian komunikasi dan informasi tengah menggelorakan hal tersebut melalui acara siberkreasi literasi digital.
Hal itu ditujukan pada seluruh masyarakat Indonesia agar tidak mudah termakan berita bohong (hoax) yang kian banyak beredar.
Literasi digital ini juga membuat pola berpikir kita menjadi kritis-kreatif, sehingga memungkinkan juga dalam meningkatkan ketahanan informasi di tengah masyarakat. Adapun beberapa prinsip dasar dalam mengembangkan literasi digital, antara lain, sebagai berikut.
Prinsip pertama adalah pemahaman. Sebagaimana diketahui bahwa literasi digital membutuhkan pemahaman sederhana yang meliputi kemampuan untuk mengekstrak ide secara implisit dan eksplisit dari media.
Prinsip kedua dari literasi digital adalah saling ketergantungan yang dimaknai bagaimana suatu bentuk media berhubungan dengan yang lain secara potensi, metaforis, ideal, dan harfiah.
Dahulu jumlah media yang sedikit dibuat dengan tujuan untuk mengisolasi dan penerbitan menjadi lebih mudah daripada sebelumnya. Namun berbeda dengan kondisi saat ini, dengan begitu melimpahnya jumlah media, bentuk-bentuk media diharapkan tidak hanya sekedar berdampingan, tetapi juga saling melengkapi satu sama lain.
[berita-terkait number=”5″ tag=”literasi”]
Prinsip ketiga, berupa komunikasi sosial. Berbagi tidak hanya sekedar sarana untuk menunjukkan identitas pribadi atau distribusi informasi, tetapi juga dapat membuat pesan tersendiri. Siapa yang memberikan informasi, kepada siapa informasi itu diberikan, dan melalui media apa informasi itu berikan tidak hanya dapat menentukan keberhasilan jangka panjang media itu sendiri, tetapi juga dapat membentuk ekosistem organik untuk mencari informasi, berbagi informasi, menyimpan informasi, dan akhirnya membentuk ulang media itu sendiri.
Prinsip terakhir adalah prinsip kurasi, atau mengkurasi. Sebab saat berbicara tentang penyimpanan informasi, seperti penyimpanan konten pada media sosial melalui metode “save to read later” merupakan salah satu jenis literasi yang dihubungkan dengan kemampuan untuk memahami nilai dari sebuah informasi dan menyimpannya agar lebih mudah diakses dan dapat bermanfaat jangka panjang. Kurasi tingkat lanjut harus berpotensi sebagai kurasi sosial, seperti bekerja sama untuk menemukan, mengumpulkan, serta mengorganisasi informasi yang bernilai. [dan/bjo]






