Semarang (beritajatim.com) – Bangunan megah peninggalan kolonial Belanda Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah, selalu memikat pengunjung dengan arsitektur klasiknya, namun di area paling bawah kompleks ini tersimpan ruang gelap bernama ‘Base Camp Lawang Sewu’ yang menawarkan sensasi wisata misteri dan sejarah tragis penjara di masa penjajahan Jepang. Ruangan yang sunyi, lembab, dan gelap tersebut berada melingkar di bangunan paling bawah, memunculkan atmosfer yang kerap menjadi sumber cerita mistis bagi para pengunjung yang bernyali untuk menelusurinya.
Untuk menelusuri ruang bawah tanah yang berusia ratusan tahun itu, pengunjung terlebih dulu diminta melepas sepatu, lalu diganti menggunakan sepatu anti air. Selanjutnya, wisatawan harus menelusuri tangga kayu warna hitam sedalam kurang lebih dua meter.
Dipandu oleh guide wisata sambil menyalakan senter, pengunjung memasuki ruang gelap yang sudah disambut oleh genangan air di area bawah. Guide bernama Muchtar (35) selalu memberi arahan kepada pengunjung supaya tetap berhati-hati saat melangkah, karena kondisi di dalam yang licin dan gelap.
“Kesan pertama saat masuk agak merinding. Bukan karena apa-apa tapi suasananya benar-benar berbeda,” ujar Sugiono salah wisatawan asal Gresik, Senin (1/12/2025).
Hal senada juga dikemukakan oleh Yasmin. Ia mengaku penasaran ingin melihat langsung suasana ruang Base Camp Lawang Sewu yang terkenal dengan aroma mistisnya.
Ruangan bawah tanah ini memiliki enam ruang yang dulunya difungsikan sebagai penjara jongkok dan berdiri, di mana satu ruang ditempati hingga lima orang. Tempat ini dipakai untuk menyiksa tahanan yang menentang penjajahan Jepang.
Yasmin menggambarkan betapa mengerikannya kondisi saat itu. “Oksigen dibawah sangat tipis, bisa dibayangkan jaman penjajahan Jepang Dulu. Bagaimana satu ruang kotak diisi lima orang ada yang berdiri dan jongkok yang menyebabkan susah bernafas lalu meninggal satu persatu,” urainya.
Dinding tebal ruang basecamp ini terlihat penuh noda lembab yang menjadi saksi bisu kekejaman masa lalu. Setelah disiksa hingga tak bernyawa, satu persatu warga yang melanggar aturan dibuang begitu saja oleh tentara Jepang. Jasad yang tak diurus itulah yang menyebabkan kesan mistis dan horor terasa kuat hingga sekarang.
Ruang Base Camp Lawang Sewu ini konon dibuka pertama kali pada tahun 2004 dan sempat dipakai untuk acara uji nyali oleh salah satu televisi swasta nasional.
Menariknya, ruangan bawah ini sempat vakum selama 25 tahun lebih sebelum akhirnya dibuka lagi buat pengunjung yang ingin merasakan suasana penjara jaman penjajahan Jepang dengan aroma mistisnya.
Guide setempat, Muchtar—yang akrab disapa Ambon dan sudah menjadi guide sejak lulus SMA—berusaha memastikan pengalaman pengunjung tetap aman dan berkesan.
Muchtar menyarankan wisatawan yang ingin menelusuri ruang bawah tanah tetap berkonsentrasi, dan melarang keras pikiran menjadi kosong. “Jangan sampai pas menelusuri pikiran lagi kosong. Ini yang mengkuatirkan,” ujar Muchtar.
Ruang basecamp Lawang Sewu memang telah lama menjadi lokasi wisata heritage bertema misteri di Semarang, Jawa Tengah. Kegiatan blusukan yang berlangsung selama 15 menit ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda.
“Kami ingin wisatawan yang datang kesini mengenal sejarahnya. Termasuk Base Camp Lawang Sewu karena ada sensasi tersendiri,” ungkap Muchtar yang akrab dipanggil Ambon.
Kegiatan blusukan yang ditutup dengan sesi berbagi pengalaman dan doa bersama. Sebagian pengunjung mengaku deg-degan namun puas, sementara lainnya menyebut ingin kembali mencoba rute berbeda pada kunjungan berikutnya.
“Sebelum naik ke atas lagi mari kita berdoa bersama supaya jasad orang yang mendahului kita diterima oleh Allah SWT,” tutur Muchtar. [dny/beq]







