Surabaya (beritajatim.com) – Dunia perfilman Surabaya terus menggeliat. Sineas muda semakin banyak bermunculan dari Kota Pahlawan ini dengan karya-karya mereka yang masih segar.
Geliat ini mendorong Kreasitama Foundation untuk mengajak komunitas film Surabaya semakin memantapkan karya. Mereka menggelar Sinekreat Student Short Films Exhibition and Appreciation.
Pamerai ini menyeleksi 15 karya terkurasi dari 150 film pendek yang terdaftar. Seluruh film merupakan buah karya anak muda seluruh Indonesia baik pelajar maupun mahasiswa.
Tak hanya itu, juga digelar apresiasi sineas dan talkshow dengan tajuk ‘Platform Digital Sebagai Wadah Karya’.
Ketua Pelaksana Sinekreat Student Short Films Exhibition and Appreciation, Ahmad Mukti, mengatakan animo sineas muda Indonesia cukup tinggi dalam mengikuti acara tersebut. Itu menunjukkan sebenarnya ekosistem perfilman terus bertumbuh dengan peluang menjanjikan.
Mukti juga menerangkan tujuan diadakannya kegiatan ini yaitu mendorong terbentuknya ekosistem film yang sehat.
“Acara ini tidak hanya diisi dengan skrining film pendek terkurasi tetapi juga ada bincang-bincang dengan sineas dan apresiator film untuk mendapatkan insight bagi sineas muda yang turut serta dalam kegiatan ini,” kata Mukti.
Sejumlah trik pun dibagi, mulai dari bagaimana membentuk strategi publishing dan distribusi karya menggunakan media digital, value film dan manfaat dari kritik dan apresiasi karya. “Itu semua bisa dijadikan bekal sineas muda untuk terus berkarya dan memiliki proyeksi yang lebih baik kedepannya,” papar Mukti.
Sementara dari 15 film pendek yang lolos kurasi ini, kata Mukti, masing-masing memiliki muatan cerita yang menggugah kesadaran untuk terus tumbuh ke arah yang lebih baik. Meski digarap oleh pelajar, film pendek yang dihasilkan cukup berbobot.
“Film-film pendek yang masuk dalam kegiatan ini sudah memiliki bobot yang baik, terlebih 15 film pendek yang terkurasi bisa dikatakan keren, menunjukkan bahwa pelaku-pelaku filmnya memiliki kapasitas sebagai sineas muda. Maka kami ingin sedikit memberikan wadah bagi sineas muda potensial untuk terus tumbuh dan berkarya ke depannya,” tambah Mukti.
Aktor senior, Slamet Rahardjo Djarot, turut membagikan pandangan soal pentingnya membentuk ekosistem perfilman yang sehat. Hal itu bisa dimulai dari value film yang harus dijaga oleh para sineas.
“Sebagai seorang sineas, value atau nilai dalam membuat film harus terus diprioritaskan dan dijaga. Seorang seniman itu mempelajari dimensi permasalahan dan dampak psikologisnya. Visi dan attitude adalah hal pertama yang dilakukan dan pesan-pesan kemanusiaan itu sangat penting, dengan begitu karya yang kita lahirkan akan menjadi karya yang sehat dan secara tidak langsung akan membentuk komposisinya dalam ekosistem yang sehat pula,” tukas Slamet Rahardjo Djarot (adg/beq)






