Lumajang (beritajatim.com) – Salah satu yang menghantui para pengungsi korban erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, adalah rasa jenuh. Makanan berlimpah ruah dari para dermawan memang membuat mereka bertahan hidup, namun tak mampu membunuh bosan.
Hal ini mendapat perhatian dari relawan Universitas Jember dalam menangani pengungsi yang tinggal di SMP Negeri 2 Pasirian. Arista Maysaroh, dosen Program Studi Diploma Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember Kampus Lumajang, mengatakan, para pengungsi mendapatkan pasokan makanan siap saji yang cenderung tanpa sayur berkuah agar tidak cepat basi dari dapur umum.
“Lama kelamaan pengungsi bosan, apalagi mereka terbiasa menyantap sayuran seperti lalapan karena bahannya mudah didapatkan di lingkungan mereka dulu. Mereka rindu makan dengan sambal seperti menu penyet tempe atau sayur bening,” kata Arista.
[berita-terkait number=”5″ tag=”unej”]
Akhirnya relawan Unej mengupayakan kompor dan peralatan memasak. “Sementara pasokan makanan siap santap diganti dengan bahan mentah saja. Jadi pengungsi memiliki kegiatan memasak agar tidak bosan. Namun bantuan makanan siap saji tetap ada,” kata Arista. Ini juga bagian dari ikhtiar penyembuhan trauma (trauma healing) yang berasal dari masukan pengungsi sendiri.
Lokasi pengungsian di SMPN 2 Pasirian menampung sekitar 400 jiwa yang ditempatkan di ruang kelas-ruang kelas yang ada. Para pengungsi ini mayoritas berasal dari Desa Curah Kobokan, Kamar Kajangm dan Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro. Ada lima bayi, 30 balita, dan seorang bayi lahir di lokasi pengungsian ini. [wir/kun]






