Surabaya (beritajatim.com) — Edukasi tak selalu harus berlangsung di ruang kelas formal dengan papan tulis dan buku paket. Di Komunitas Makam Mataram, Surabaya, proses belajar justru hadir dengan cara yang tak biasa: melukis tanpa kuas.
“Melalui sentuhan jari, telapak tangan, hingga spons, puluhan anak diajak mengekspresikan imajinasi mereka secara bebas—menciptakan ruang belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna,” ujar Ketua pelaksana, Fedilia Yanson Widio, Rabu (29/4/2026).
Sebanyak 15 mahasiswa dari turun langsung memberikan materi interaktif kepada sekitar 60 anak. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat bertajuk Petra Mengajar V yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Metode “melukis tanpa kuas” menjadi salah satu pendekatan yang mencuri perhatian. Anak-anak diajak menciptakan karya seni di atas kertas A4 menggunakan cat air, tanpa alat lukis konvensional. Hasilnya bukan hanya gambar penuh warna, tetapi juga tawa lepas dan ekspresi kebahagiaan yang terlihat jelas di wajah mereka. Aktivitas ini dirancang untuk merangsang kreativitas sekaligus membangun rasa percaya diri anak-anak dalam berekspresi.
Namun, di balik kegiatan yang terlihat sederhana ini, terdapat proses persiapan yang matang. Para mahasiswa tidak langsung terjun ke lapangan. Mereka terlebih dahulu mengikuti dua tahap pembekalan terstruktur. Tahap pertama dilakukan bersama dosen pembimbing dan tim panitia untuk mematangkan konsep materi. Selanjutnya, pembekalan lanjutan diberikan oleh perwakilan Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah dan Yayasan Pondok Kasih.
Dalam sesi ini, mahasiswa dibekali pemahaman tentang pendekatan efektif dalam mengajar anak-anak dengan latar belakang beragam, termasuk strategi menghadapi dinamika di lapangan. Tak hanya itu, setiap kelompok juga ditugaskan menyusun buku materi ajar sebagai panduan pembelajaran.
Buku-buku tersebut kemudian dikumpulkan dalam bentuk fisik dan didonasikan kepada sekolah serta program Mobil Pintar Pondok
Kasih. Program ini merupakan perpustakaan berjalan sekaligus ruang belajar alternatif bagi anak-anak prasejahtera, yang menghadirkan akses literasi langsung ke lingkungan mereka.
Fedilia menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai respons atas tantangan akses pendidikan informal di Surabaya, khususnya bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
“Di Komunitas Makam Mataram sendiri, mayoritas orang tua anak bekerja sebagai pembersih makam, dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Usia anak-anak yang terlibat pun beragam, mulai dari 3 hingga 15 tahun, dengan tingkat akses pendidikan yang berbeda-beda,” jelasnya.
Fedilia juga mengatakan bahwa melalui pendekatan kreatif dan kolaboratif, Petra Mengajar V tidak sekadar menghadirkan aktivitas belajar sesaat. Lebih dari itu, program ini menjadi jembatan harapan—menghubungkan semangat mahasiswa dengan kebutuhan nyata di masyarakat.
Donasi materi ajar, metode pembelajaran inovatif, hingga interaksi langsung yang hangat menjadi fondasi penting dalam membangun pendidikan yang lebih inklusif.
Koordinator Pencerdasan Anak Bangsa (PAB) Yayasan Pondok Kasih, Anita Prasetia
Rahayu, menyebut kontribusi mahasiswa sangat berdampak.
“Kami sangat terbantu dengan adanya Petra Mengajar, khususnya dalam project Mobil Pintar. Anak-anak tidak hanya mendapat pembelajaran, tetapi juga donasi alat tulis yang menunjang proses belajar mereka,” ujarnya.
Petra Mengajar V sendiri melibatkan total 192 mahasiswa yang terbagi dalam 64 kelompok. Selama satu minggu, mulai 24 hingga 30 April 2026, mereka menjangkau sekitar 1.000 anak di tujuh sekolah dan enam komunitas yang berada di bawah naungan YISB dan Yayasan Pondok Kasih.(fyi/aje)






