Surabaya (beritajatim.com) – Perkembangan lanskap digital yang kian masif menuntut adanya tanggung jawab kolektif dalam penyebaran informasi di ruang publik. Isu ini menjadi sorotan utama dalam agenda Meetup Jatim Connect yang mempertemukan elemen media massa, praktisi hubungan masyarakat (humas), dan influencer untuk membangun ekosistem informasi yang sehat, akurat, dan terpercaya di Jawa Timur.
Dalam forum webinar tersebut, para pembicara dari berbagai latar belakang sepakat bahwa media, humas, dan pegiat media sosial kini memiliki peran setara dalam menjaga kualitas informasi. Sinergi ketiganya dinilai krusial untuk menangkal disinformasi yang menyesatkan masyarakat.
CEO Beritajatim Group, Dwi Eko Lokononto, menegaskan bahwa komunitas ini dibentuk dengan visi menciptakan standar informasi yang lebih baik di tingkat regional. Menurutnya, kesehatan ekosistem digital bergantung pada kredibilitas para pelakunya.
“Tujuan kami sederhana, bagaimana informasi di Jawa Timur bisa lebih sehat dan dipercaya. Tahun depan akan banyak kegiatan, mulai dari podcast hingga program daring, sebagai wadah belajar dan kolaborasi,” ujar Dwi Eko Lokononto.
Sosok yang akrab disapa Lucky ini juga mengingatkan bahwa dalam industri digital saat ini, brand mulai mengubah haluan dalam memilih mitra. Kredibilitas, konsistensi, dan kemauan bekerja keras kini lebih diutamakan dibandingkan sekadar jumlah pengikut yang besar.
Fokus pada Kepentingan Publik
Perspektif senada disampaikan Eva Danayanti, Country Programme Manager IMS. Ia menekankan pentingnya konten yang berorientasi pada kepentingan publik (public interest content). Eva menyoroti perlunya menjembatani kesenjangan persepsi antara media yang ketat pada prinsip jurnalistik, humas yang menjaga citra instansi, dan influencer yang kerap diasosiasikan dengan viralitas semata.
“Semua yang bermain di media sosial sejatinya adalah influencer. Karena itu, kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga ekosistem digital agar tetap sehat dan bisa berkolaborasi,” jelas Eva.
Kunci Kepercayaan: Visual dan Kecepatan
Dari sisi praktisi konten, Evi Puspasari atau Mak Amel, pengelola akun @info.lantas.sidoarjo, membagikan strategi membangun kepercayaan (trust) audiens. Berdasarkan pengalamannya mengelola informasi lalu lintas dan kejadian di Sidoarjo, masyarakat kini lebih menyukai format visual singkat seperti video atau foto daripada teks panjang.
“Konten kami dibuat apa adanya, langsung dari lokasi. Tidak dilebih-lebihkan dan tidak diubah. Justru karena itu dipercaya,” ungkapnya.
Mak Amel menambahkan, penggunaan bahasa lokal dan caption ringkas terbukti efektif menjangkau audiens. Namun, ia menekankan prinsip kehati-hatian dalam mengunggah konten sensitif agar tidak memicu salah tafsir di masyarakat.
Etika AI dalam Produksi Konten
Diskusi Meetup Jatim Connect juga mengulas pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Ardalina Luvitasari, praktisi AI dan Dosen Manajemen Bisnis Digital Institut STTS, menjelaskan bahwa teknologi AI dapat membantu efisiensi pembuatan narasi, namun kendali editorial harus tetap berada di tangan manusia.
Ardalina mengingatkan para kreator untuk memahami teknik memberikan perintah (prompt) yang tepat agar hasil konten tetap relevan dan etis.
“AI hanya alat bantu. Kita harus tahu apa yang layak diposting, menjaga privasi, dan tetap memperhatikan unsur 5W+1H agar informasi tidak membingungkan,” pungkas Ardalina. [beq]






