Ponorogo (beritajatim.com) – Tradisi Methik Pari di Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, tak lagi berhenti sebagai ritual lokal. Perayaan panen itu, tampil dengan wajah baru.
Hal ini dilakukan usai tradisi itu, masuk dalam Kharisma Event Ponorogo (KEPO) 2026. Sekaligus representasi budaya adi luhung yang mulai diarahkan menjadi daya tarik wisata berbasis desa.
Tradisi dimulai dari warga yang bergerak serempak dari balai desa menuju persawahan, membawa tumpeng dan harapan. Bukan sekadar seremoni, Methik Pari menjelma menjadi ruang pertemuan antara tradisi, spiritualitas, dan geliat ekonomi lokal yang mulai ditata lebih serius.
Kepala Desa Glinggang, Gunung, menegaskan bahwa tradisi ini tetap berpijak pada nilai dasarnya, yakni rasa syukur. Di balik suasana sakral itu, tersimpan cerita ketahanan petani. Namun hasil panen yang tetap terjaga, menjadi alasan kuat bagi warga untuk merayakan Methik Pari dengan lebih khidmat sekaligus penuh optimisme.
“Tujuannya ini bentuk syukur terhadap Allah SWT bahwa seluruh warga Desa Glinggang diberi panen yang melimpah ruah, selamat,” kata Gunung, Kamis (30/4/2026).
Prosesi dimulai dengan doa bersama di balai desa. Warga kemudian berjalan beriringan menuju sawah, mengikuti ritual Methik Pari yang dipimpin tokoh yang dituakan. Alunan kesenian tradisional mengiringi jalannya prosesi, mempertegas identitas budaya yang masih terjaga.
Momentum kebersamaan mencapai puncaknya saat ‘bruncah buceng’ digelar. Ratusan tumpeng disantap bersama di tengah sawah, menghapus sekat sosial dan memperkuat ikatan antarwarga.
“Total tumpengnya ada 300-an,” ungkap Gunung.
Masuknya Methik Pari dalam KEPO 2026 bukan tanpa konteks. Status Kabupaten Ponorogo sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) mendorong pemerintah daerah untuk bergerak lebih konkret.
Pengakuan global itu diterjemahkan ke dalam langkah nyata dengan menggerakkan desa, budaya, dan ekonomi kreatif secara simultan.
“Sangat luar biasa, ini juga nguri-uri budaya,” kata Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita yang juga hadir di kegiatan tradisi Methik Pari tersebut.
Di titik ini, Methik Pari tidak lagi sekadar perayaan panen. Kegiatan ini bertransformasi menjadi simbol arah baru pembangunan desa. Yalni menjaga akar budaya sambil membuka peluang masa depan.
Tradisi adi luhung tetap hidup, namun kini berjalan beriringan dengan upaya memperkuat identitas dan daya saing Ponorogo di panggung yang lebih luas. “Tradisi Ini juga masuk dalam KEPO 2026. Sesuatu yang unik, budaya dikombinasi dengan bertani,” pungkasnya. [end/suf]






