Lumajang (beritajatim.com) – Selain mendapat penghasilan tambahan atau uang insentif, marbot masjid dan semua guru keagamaan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur juga telah terkaver bantuan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur baru saja menyalurkan insentif bagi 4.165 marbot masjid dan semua guru keagamaan, Jumat (17/10/2025).
Total, ada 2.866 guru ngaji dan 1.147 marbot masjid yang mendapat insentif dengan besaran Rp 1,2 juta perorang.
Jumlah insentif yang diberikan ini merupakan akumulasi selama satu tahun atau setara dengan Rp 100.000 perbulan bagi setiap guru ngaji dan marbot masjid.
Terdapat juga 152 penerima manfaat dari kalangan guru minggu atau guru keagamaan non-muslim dengan besaran Rp 600 ribu perorang atau setara Rp 50 ribu perbulan.
Selain insentif, semua penerima manfaat ini juga telah terdaftar dan dilindungi program BPJS Ketenagakerjaan yang dibayarkan oleh Pemkab Lumajang dengan besaran Rp 10.800 setiap orang setiap bulan.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Lumajang Delistyana Diah Vianty mengatakan, penting untuk terus memperluas capaian universitas coverage jamsostek (UCJ) yang baru menjangkau 82.813 orang dari total 599.547 pekerja di Lumajang.
Menurutnya, inisiatif Pemkab Lumajang untuk ikut melindungi sektor keagamaan dengan jaminan sosial ketenagakerjaan patut diapresiasi.
Sebab, telah menjadi contoh nyata kolaborasi pemerintah daerah dengan lembaga jaminan sosial dalam memperluas perlindungan bagi kelompok pekerja informal dan non-struktural.
“Khusus untuk perlindungan sektor keagamaan ini kami yakin Pemkab Lumajang akan terus memberi perlindungan sektor keagamaan setiap tahunnya,” terang Delistyana, Rabu (22/10/2025).
Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati menjelaskan, sektor keagamaan kini telah menerima manfaat yang sama dengan pekerja lain, di mana memiliki perlindungan dari risiko kerja, seperti kecelakaan atau kematian yang bisa dihadapi dalam keseharian.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam memperkuat ekosistem kesejahteraan sosial di semua sektor.
“Jadi, mereka bukan sekadar tenaga pengajar agama, tetapi cahaya yang menjaga nurani bangsa. Sudah saatnya kita hadir untuk mereka, bukan hanya dengan ucapan terima kasih, tapi dengan perlindungan yang nyata,” ungkap Indah. (has/but)






