Surabaya (beritajatim.com) – Sejumlah pengembang perumahan yang tergabung dalam Forum Lintas Asosiasi Real Estate Jawa Timur meminta solusi atas maraknya kavling liar kepada Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.
Juru Bicara Forum Lintas Asosiasi Real Estate yang juga Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Timur, Soesilo Efendy, mengatakan bahwa dalam lima tahun terakhir, pengembang perumahan di Jawa Timur dihadapkan pada persoalan maraknya kavling liar atau ilegal.
“Di Kota Surabaya misalnya, hampir di setiap kecamatan terdapat kavling liar. Hal ini tentu saja merugikan pengembang real estate dan konsumen,” kata Soesilo, Jumat (9/2/2024).
Soesilo menjelaskan, keberadaan kavling liar berpengaruh besar terhadap perekonomian nasional dari sisi real estate.
“Contohnya, jika real estate resmi menawarkan Rp500 juta untuk satu unit perumahan, pengembang di kavling liar bisa banting harga jauh di bawah rata-rata harga normal. Mereka bisa menawarkan satu unit rumah diharga Rp100 juta,” ujarnya.
Soesilo berharap Ketua DPD RI dapat memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi pengusaha real estate tersebut.
“Dalam pertemuan dengan Ketua DPD RI, responnya sangat baik. Kami diminta menyertakan data untuk segera ditindaklanjuti,” kata Soesilo.
Menanggapi hal itu, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menegaskan bahwa keberadaan kavling liar tidak bisa dibiarkan.
“Kavling liar memiliki tiga ekses negatif. Pertama bagi pengembang itu sendiri. Kedua, tentu saja berdampak serius bagi pemasukan daerah. Ketiga, bagi konsumen itu sendiri, di mana di beberapa tempat terjadi kerugian yang dialami konsumen karena perizinan yang tak kunjung keluar hingga berbagai masalah lainnya,” kata LaNyalla.
LaNyalla menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti permasalahan ini.
“Kavling liar tak boleh dibiarkan. Kami segera tindaklanjuti,” kata LaNyalla.
Senator asal Jawa Timur itu menilai, sektor real estate berkontribusi besar terhadap perekonomian, baik di daerah maupun di pusat.
“Dari data yang saya miliki, sektor real estate pada tahun 2023 tumbuh sebesar 2,69 persen,” kata LaNyalla.
LaNyalla menambahkan, sumbangan sektor real estate terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di tahun 2023 mencapai 0,05 persen.
“Sementara sumbangannya terhadap PDRB Jatim mencapai Rp46,496 triliun dari total PDRB Jatim sebesar Rp2.953,546 triliun, naik dibanding tahun lalu sebesar Rp44,748 triliun dari total PDRB Jatim Rp2.731,358 triliun,” kata LaNyalla.
LaNyalla juga menyebutkan bahwa ada enam daerah yang merupakan daerah prioritas pengembangan properti di Jatim, yaitu Kota Batu, Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Lamongan dan Kediri.
“Adapun jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor real estate per Februari 2022 mencapai 450.519 orang atau 0,332 persen persen dari seluruh tenaga kerja di Jatim,” kata LaNyalla. [beq]






