Gresik (beritajatim.com) – Gula merah khas Pulau Bawean memiliki rasa citra tersendiri. Bahan dasar minuman itu bisa juga dibuat oleh-oleh saat berkunjung. Uniknya, proses pembuatan gula merah atau gula aren (bahasa Jawa) ini masih dilakukan secara tradisional. Salah satunya di Dusun Langcabur, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura.
Lokasi sentra industri gula merah itu mudah dijangkau. Hanya berjarak 2,5 kilometer dari arah utara Alun-Alun Kecamatan Sangkapura. Kemudian, berjalan kaki menuju ke Dusun Langcabur, Desa Daun.
Tiba di lokasi terdapat bangunan sentra industri gula merah yang terbuat dari kayu berukuran 3×6 meter. Setiap hari, Saiminah (30) ibu dua anak ini bercucuran keringat mengaduk air dari pohon aren untuk dibuat gula merah.
Menurutnya, butuh waktu setengah hari mengaduk air aren hingga kental sampai berwarna kecoklatan. Setelah mendidih, air aren yang sudah berwarna coklat itu. Selanjutnya, dicetak di bambu bulat berukuran kecil. Setelah agak dingin dibungkus dengan daun pisang yang sudah dikeringkan.
Setiap hari Saiminah mampu memproduksi 60 cetak gula merah. Dari jumlah itu, 10 cetak gula merah yang siap jual jika ditimbang beratnya 1 kilogram yang dijual dengan harga Rp 15 ribu di orang pertama. Sementara, orang kedua harganya bisa mencapai Rp 22 ribu hingga Rp 25 ribu perkilonya.
“Saya membuat gula merah turun-menurun dari orang tua. Sebelum meneruskan usaha ini, saya pernah jadi TKI di Serawak Malaysia. Kemudian balik ke kampung halaman membuat gula merah lagi,” ujarnya, Kamis (2/06/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”pulau-bawean”]
Saiminah menceritakan proses pembuatan gula merah memang tidak mudah. Sebab, butuh ketelatenan mulai dari awal sampai jadi kemudian dijual ke konsumen. Sebelum jadi gula merah. Suaminya (Rahdi) tiap hari mengambil air aren. Di Pulau Bawean, air tersebut dinamakan lak’ang. Setelah itu, dimasukkan bambu besar yang telah dibakar.
“Satu air aren yang dimasukkan bambu sama saja dengan satu pohon. Kalau ambil sembilan ada sembilan pohon aren,” ujar Saiminah.
Diakui dirinya, permintaan gula merah meningkat saat menjelang Bulan Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri. Selain dipasarkan di Pulau Bawean juga ke Pulau Jawa serta ke negara Malaysia.
“Saat menjelang Bulan Ramadan hingga Lebaran permintaan cukup tinggi karena banyak warga mencari gula aren dibuat untuk berbuka puasa,” ungkapnya.
Sementara itu, Jenah (25) salah satu pembeli gula aren menyatakan selain dibuat bahan campuran minuman, gula merah khas Bawean bisa juga dipakai untuk bahan dasar pembuatan bubur.
“Gula merah khas Bawean berbeda rasanya dengan gula merah daerah lain. Di tempat kami proses pembuatannya masih sangat tradisional dan sampai sekarang masih bertahan,” ungkapnya. [dny/but]






