Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah derasnya arus digitalisasi, upaya menjembatani yang tradisional dengan modern terus dilakukan oleh dunia pendidikan. Salah satunya datang dari Petra Christian University (PCU) melalui inovasi unik, yakni memanfaatkan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menciptakan motif batik baru yang tetap berakar pada nilai-nilai tradisional Indonesia.
“Kami mencoba menjembatani masa lalu dan masa kini dengan memanfaatkan teknologi mutakhir saat ini, yaitu AI. Dengan mengeksplor kreativitas dari objek-objek yang ada di sekitar kita maupun di sekitar mahasiswa, objek tersebut bisa dijadikan sebagai motif batik,” ujar Aniendya Christianna, dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) PCU, yang akrab disapa Niendy.
Niendy menjelaskan, penggunaan AI bukan untuk menggantikan perajin batik, melainkan untuk menginspirasi eksplorasi motif baru yang dekat dengan kehidupan anak muda. “Kelebihannya, dalam waktu singkat kita bisa menghasilkan berbagai motif batik. Saya sudah menyimpan sekitar 50 motif dari satu kali percobaan saja. Kekurangannya tentu masih bisa terus dikembangkan,” jelasnya.
Saat ini Niendy masih berfokus pada metode Batik Parang, dan tengah mengeksplor cara menghasilkan motif Batik Kawung dengan mengombinasikan objek-objek sekitar. Ia menegaskan bahwa teknologi justru dapat memperluas cakrawala desain batik, tanpa meninggalkan akar tradisinya.
“Harapannya, AI ini tidak mematikan UMKM atau industri kreatif, tetapi mendukung mereka untuk mengeksplor motif batik yang lebih disukai generasi muda,” imbuhnya.
Dalam proses kreatifnya, Niendy menjelaskan bahwa pembuatannya tetap mempertahankan teknik tradisional.
“Pembuatan batik akan tetap menggunakan malam cair dengan teknik manual dan tradisional. Tetapi motif-motif yang disukai anak muda, itu yang sering jadi kendala. Jadi di sinilah generate image menggunakan AI ini harapannya bisa menjadi solusi,” terangnya.

Ia pun menjelaskan bagaimana langkah-langkah membuat inovasi motif batik menggunakan Gemini AI, yang tentu saja membutuhkan sebuah prompt. Adapun untuk menghasilkan satu prompt tersebut, ia mengaku membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan.
“Kelihatannya sederhana, tapi satu paragraf itu bisa terus dikembangkan agar bisa lebih presisi, simetris, dan sesuai dengan kaidah batik tradisional,” jelasnya.
Niendy kembali menegaskan, bahwa AI tidak akan mematikan perajin batik. Ini hanya digunakan untuk inspirasi eksplore motif. Mungkin dengan begitu, batik bisa lebih dekat dengan anak muda.
Inovasi ini sendiri menjadi bagian dari perayaan Hari Sumpah Pemuda 2025 sekaligus menyambut Bulan Batik Nasional pada Oktober. Dalam kegiatan bertajuk “Sumpah Pemuda: Refleksi Cinta Tanah Air Melalui Batik AI Future Code” yang digelar di Perpustakaan PCU pada Senin, 27 Oktober 2025, mahasiswa diajak menciptakan motif batik kontemporer berbasis AI.
Pameran ini menjadi simbol bahwa cinta tanah air dapat diungkapkan melalui kreativitas dan teknologi. Niendy menambahkan, “Pameran ini bukan hanya selebrasi kekayaan batik Indonesia, tetapi juga wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi: penelitian, pengabdian, dan pengajaran ilmu pengetahuan.”
Melalui pameran tersebut, pengunjung diajak terlibat secara aktif. Mahasiswa diberi kesempatan menciptakan motif batik kontemporer berdasarkan template prompt yang telah disediakan. Inspirasi datang dari keseharian yang berkaitan dengan semangat Sumpah Pemuda—mulai dari motif Pancasila, Bendera Merah Putih, hingga tokoh nasional seperti W.R. Supratman.
“Semoga dengan adanya kegiatan ini, generasi penerus tetap bisa mengenang jasa pahlawan sekaligus menghargai budaya dengan cara yang kreatif, imajinatif, dan menyenangkan. Menciptakan motif batik yang belum pernah ada sebelumnya, sesuai dengan kepribadian masing-masing,” tambah Niendy.
Selain inovasi Batik AI, PCU juga menghadirkan pameran “Memetik Pucuk Batik”, yang menampilkan keindahan dua wajah batik: Batik Dolly dan Batik Belanda. Batik Dolly bukan sekadar karya kontemporer. Dengan dominasi warna ungu dan motif urban yang ekspresif, batik ini menjadi bukti bahwa seni mampu mengubah stigma kelam menjadi simbol keindahan dan harapan. Sementara itu, Batik Belanda menuturkan kisah lintas budaya yang memperkaya identitas batik Indonesia. (fyi/but)






