Malang (beritajatim.com) – Puasa bukan hanya menahan nafsu haus maupun lapar, melainkan puasa berkaitan juga dengan kesehatan fisik dan mental seseorang. Dosen program studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Zainul Anwar, S.Psi., M.Psi., menjelaskan manfaat puasa untuk kesehatan mental.
Terdapat lima manfaat puasa untuk kesehatan mental. Menurut psikolog UMM ini yang pertama, puasa membuat emosi menjadi lebih stabil. Orang berpuasa terbiasa untuk menahan atau mengelola emosi.
“Saat puasa kita bisa mengelola hal yang sifatnya biologis sampai mengelola hal yang sifatnya psikologis. Dengan begitu, emosi lebih terkontrol dan stabil,” ungkapnya.
Manfaat kedua, puasa dapat meningkatkan empati. Saat berpuasa seseorang juga dapat belajar untuk berempati. Dengan berempati, mental akan berkembang lebih positif dan sehat.
“Sebab dengan membantu atau menolong orang lain, otomatis akan membuat psikis kita menjadi lebih bersemangat,” nilainya.

Ketiga, puasa dapat membuat mental menjadi lebih sehat, khususnya terkait tekanan dalam hidup. Contohnya, tekanan stress. Stress lebih mudah dikelola dengan berpuasa.
Zainul Anwar juga menyebut pantangan yang harus dihindari ketika berpuasa. Contohnya, ghibah, yang secara psikologis itu dapat menimbulkan stress. Dengan berpuasa, hal tersebut sebisa mungkin dihindari yang juga membuat terhindar dari stress.
Keempat, puasa dapat menjadikan lebih produktif. Kelima, puasa dapat membuat hidup menjadi lebih teratur.
“Tidak ada dampak negatif yang dihasilkan puasa bagi kesehatan mental seseorang. Dengan catatan, puasanya dijalankan dengan serius. Jika kita hanya sekedar puasa untuk menjalankan kewajiban, pasti kita akan lebih banyak mengeluh,”
Ia mencontohkan keluhan dalam hal yang sifatnya biologis, seperti lapar dan haus. Kemudian menjadikan puasa sebagai alasan untuk malas.
“Padahal seharusnya ketika puasa kita jadi lebih produktif dan semangat. Tentunya dalam hal yang bersifat positif,” tegasnya.
Jika menjadikan puasa itu sebagai beban, mungkin bisa membuat semakin tertekan dan stress. Namun jika mengikuti aturan puasa yang ada maka tidak akan menimbulkan efek negatif apapun secara psikologis.
Ketika puasa merasa stress maka cobalah untuk mengubah pola pikir. Ia menyarankan agar coba menjalani puasa dengan perasaan yang lebih santai dan bahagia.
“Puasa Ramadan hanya ada sebulan dalam setahun, maka sambut dan jalankanlah perintah dari Yang Maha Kuasa ini dengan ikhlas. Insyaallah ada dampak dan balasan yang indah untuk kita saat atau setelah menjalankannya,” katanya menutup. (dan/ian)






