Manchester (beritajatim.com) – Performa buruk Manchester United di Premier League berdampak luas, termasuk pada kondisi keuangan klub. Efek domino dari keterpurukan di lapangan kini merambah ke pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan. Setelah tahun lalu merumahkan 250 orang, dalam waktu dekat United akan kembali melepas 200 pekerja.
Sejak 2019, Manchester United terus mengalami kerugian besar. Menurut laporan BBC, klub berjuluk Setan Merah itu mencatatkan kerugian hingga GBP 370 juta atau sekitar Rp7,6 triliun.
“Itu (pemecatan karyawan, Red) bertujuan agar memperbaiki neraca keuangan sekaligus efisiensi operasional. Langkah tersebut nantinya bisa berpengaruh terhadap investasi untuk tim,” bunyi pernyataan resmi United.
Salah satu langkah efisiensi yang diambil klub adalah menghapus makan siang gratis bagi karyawan. Keputusan ini diharapkan dapat menghemat pengeluaran sebesar GBP 1 juta atau sekitar Rp20,5 miliar per tahun.
Ketidakhadiran Manchester United di Liga Champions musim ini semakin memperburuk kondisi keuangan. Pendapatan dari hak siar turun drastis, dari GBP 106 juta (Rp2,18 triliun) musim lalu menjadi hanya GBP 61 juta (Rp1,25 triliun) musim ini.
Krisis finansial ini berjalan seiring dengan penurunan performa di lapangan. Hingga matchweek ke-26, Manchester United masih tertahan di peringkat ke-15—peringkat terburuk mereka di titik yang sama sejak musim 1989–1990. [dio/beq]






