Surabaya (beritajatim.com) – Sejak 28 Februari 2026 pecah perang antara Amerika Serikat-Israel versus Iran. Hingga hari ini, Senin, 30 Maret 2026, belum ada tanda-tanda eskalasi perang itu mengarah ke de-eskalasi. Justru sebaliknya, eskalasi perang cenderung bergerak naik dan makin panas. Berbagai ancaman yang dilontarkan AS justru dibalas dengan ancaman yang lebih keras oleh Iran.
Warga Iran bukan keturunan Arab, namun Persia. Banyak sekali perbedaan antara karakter warga Iran dengan penduduk negara-negara Arab meski bertetangga dekat secara geografis seperti dengan seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Irak, Arab Saudi, Kuwatit, Bahrain, dan lainnya. Baik itu secara kultur, politik, sosiologis, antropologis, etnis.
Persia memiliki akar peradaban Kekaisaran Persia Kuno (Cyrus Agung) yang terpisah dari budaya Arab. Budaya Persia sering dianggap memiliki akar sejarah lebih kuno. Sedang kebudayaan Arab sangat dipengaruhi kemunculan Islam pada abad VII masehi.
Secara etnis, bangsa Arab bisa ditelusuri dalam perspektif historis dari nenek moyangnya di Semenanjung Arab. Bangsa Persia adalah keturunan bangsa Arya yang menetap di dataran tinggi Iran.
Dalam perspektif teologi Islam, aliran dalam Islam yang dominan dan mainstream di Iran adalah Islam Syiah. Aliran tersebut sejak dulu menjadi benteng kuat yang melindungi kebudayaan Iran.
Syiah di Iran adalah aliran Itsna Asyariyah (Syiah 12 Imam) yang dianut 90-95 persen populasi dan merupakan aliran keagamaan Islam resmi negara sejak Dinasti Safawi (1501). Berpusat pada ajaran 12 Imam Maksum, sistem teologi dan politiknya kini didominasi konsep Wilayatul Faqih (kepemimpinan ulama) yang dirumuskan Ayatullah Khomeini.
Syiah 12 Imam (Imamiyyah/Itsna Asyariyah) memegang teguh keyakinan bahwa pemimpin yang berhak meneruskan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW adalah 12 imam Ahlul Bait (keturunan memiliki nasab yang tersambung ke Nabi Muhammad SAW).
Aliran Syiah di Iran, dalam perspektif sejarah, muncul dan mulai mengakar sejak Shah Ismail I dari Dinasti Safawi menjadikan Syiah sebagai agama negara di 1501. Hal itu mengubah lanskap keagamaan Iran secara permanen dari Sunni ke Syiah untuk membedakan diri dari Kekaisaran Ottoman.
Sejak revolusi Islam Februari 1979, Iran adalah Republik Islam dengan sistem Wilayatul Faqih. Kepemimpinan tertinggi berada di tangan seorang ulama (Rahbar). Ulama besar dan Marja’ al-Taqlid (rujukan tertinggi) memiliki pengaruh sangat besar dalam menafsirkan hukum Islam dan fatwa. Aliran ini sangat menekankan penghormatan kepada Ali bin Abu Thalib RA dan keturunannya, serta merayakan ritual keagamaan seperti Asyura.
Realitas teologis itu berbeda dengan aliran mainstream di banyak negara Arab lain yang berpaham Sunni atau Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Aswaja). Sunni menjadi kelompok mayoritas umat Islam (sekitar 85-90 persen dunia) yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, berpegang pada Al-Qur’an, Al Hadits, dan tradisi para sahabat.
Sunni menekankan persatuan (ijma) dan mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Dalam perspektif akidah/teologi, kaum Sunni umumnya mengikuti paham Asy’ariyah atau Maturidiyah, yang menekankan tauhid (keesaan Allah). Aliran ini mempercayai bahwa pemimpin umat Islam (khalifah) dipilih melalui musyawarah (konsensus).
Sunni menghormati empat khalifah pertama dalam Islam: Abu Bakar Asshiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, dan Ali Bin Abu Thalib.
Karakter dan Kultur Syiah Iran
“Wafatnya Imam Husain bin Ali bin Abu Thalib (Cucu Rasulullah Muhammafd SAW) dalam perang melawan Yazib bin Muawiyah bin Abu Sofyan di Padang Karbala Irak selalu diperingati warga Syiah Iran sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan. Di era Shah Reza Pahlavi yang berperilaku kejam dan semena-mena kepada rakyat Iran dengan polisi rahasia SAVAK yang dilatih orang-orang Israel dan Amerika Serikat, membuat agama Islam jadi pelarian dan tempat berlindung bagi pemeluknya. Makin ia diserang, makin radikal, makin militan dan matanglah pengikut dan pemimpin agama Islam,” tulis Dr Nasir Tamara (2017) dalam bukunya: Revolusi Iran.
“Dalam hubungan sosio-kebudayaan di Iran, Al Qur’an jadi sumber inspirasi sekaligus mobilisator yang kuat. Revolusi (Islam) Iran adalah asli, bukan diimpor dari konsep Marxisme yang berasal dari Barat. Khomeini (Ayatollah Ruhollah Khomeini) sejak dulu merupakan tokoh militan dan pemberani. Bila perlu mati dalam mempertahankan kehormatan dan kemerdekaan,” tambah Nasir Tamara.
Aliran Syiah identik dengan Iran, sedang Sunni paralel dengan Arab Saudi. Dua negara ini relasinya pasang surut dalam lansap geopolitik Timur Tengah pasca-pecahnya revolusi Islam Iran 1 Febrauri 1979.
Di Iran, pemimpin tertinggi dipegang seorang ‘ayatollah’ yang dalam struktur teologi Syiah dipandang sebagai seorang yang memegang isyarat Tuhan atau pemegang ayat Allah. Para ‘ayatollah’ memiliki dua fungsi pokok: Pertama, mengajar Islam. Kedua, berhak menafsirkan seluruh materi agama Islam. Para pemeluk agama (Islam Syiah) datang kepada ‘ayatollah’ untuk meminta petunjuk dalam segala hal, baik bersifat lahiriah ataupun rohaniah. “Di dunia Syiah internasional diperkirakan ada sekitar 2.000 ayatollah,” kata Nasir Tamara.
Menurut aliran Syiah, tugas imam (penunjuk jalan) adalah membantu memberi pengertian yang lebih mendalam dalam pemahaman isi Al Qur’an. “Al Qur’an adalah imam yang diam. Imam adalah Al Qur’an yang bicara,” demikian menurut ahli Islam Syiah, Henri Corbin dikutip Nasir Tamara.
Islam Syiah sangat menentang kekuasaan politik yang lalim dan menindas. Hal itu dilandasi spirit dari perjuangan Imam Husain bin Ali bin Abu Thalib yang gugur karena melawan pemimpin yang lalim dan zalim.
Prinsip kekuasaan dan keadilan menjadi hal pokok bernilai strategis di kalangan tokoh agama, pemimpin, dan warga Syiah. Karena itu, ikut sertanya umat Syiah dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kekuasaan dan ikhtiar menegakkan keadilan merupakan bentuk kewajiban yang mesti ditunaikan setiap warga Syiah secara istiqomah.
“Kewajiban seorang imam adalah mengkoordinasi mereka. Keadilan sosial dan ekonomi harus benar-benar dijaga. Sehingga masing-masing anggota masyarakat dapat mempunyai hak yang sama. Mereka yang tertindas dapat dibela melawan si penindas, baik penindas itu perorangan, rezim politik yang zalim, maupun negara asing,” jelas Nasir Tamara.
Berkaca dari fakta sejarah politik Iran di masa lalu, para tokoh agama berada di garis depan dalam perjuangan menumbangkan rezim politik yang zalim, menindas, dan despotik. Pada pemimpin Syiah menumbangkan dinasti Qajar pada 1923, dinasti Pahlavi pada 1979 yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Yang perlu digarisbawahi, tulis Nasir Tamara, para pemimpin Syiah di Iran bukan hanya mempelajari agama, melainkan juga ideologi negara asing, filsafat, ilmu politik modern, ilmu ekonomi modern, dan lainnya. Mereka selalu bisa mengikuti perkembangan zaman.
“Ayatollah Khomeini, misalnya, dikenal ahli filsafat Yunani Kuno. Ayatollah Gilani, Ketua Mahkamah Agung Iran, adalah seorang ahli pemikiran Bertrand Russell, filsuf Inggris,” ungkap Nasir Tamara.
Dalam struktur dan kultur masyarakat Syiah Iran, gelar ‘ayatollah’ itu diberikan masyarakat. Bukan pemberian negara atau rezim politik. Sedikit banyak ada kemiripan dengan gelar ‘kiai’ dalam konteks masyarakat Islam Tradisional (NU) di Indonesia.
Seseorang jadi ayatollah jika pengikutnya sudah banyak sekali. Hal itu wujud pengakuan masyarakat atas pengetahuan dan kapasitas intelektualnya di banyak bidang, bukan hanya bidang ilmu keagamaan.
“Karena itu, amat ceroboh pandangan yang menyatakan seorang ayatollah tidak mengerti masalah-masalah pemerintahan modern, sebab mereka adalah tokoh-tokoh pintar yang membaca banyak referensi dan selalu memiliki perpustakaan besar di tempat masing-masing,” ungkap Nasir Tamara.
Sikap dan perilaku seorang ‘ayatollah’ dalam praktik sosial keagamaan dan politik kenegaraan di Iran ada yang bersifat kolot (konservatif) dan tak sedikit berpikiran progresif. Dalam konteks ini, mantan Perdana Menteri (PM) Iran pertama pasca-revolusi Islam Februari 1979, Bazargan mengungkapkan, Imam Khomeini adalah seorang yang progresif. Tapi sayangnya ketika pulang ke Iran dikelilingi oleh pembantu-pembantu yang tak seluruhnya progresif, bahkan jauh dari itu.
Nasir Tamara menulis bahwa agama Islam aliran Syiah berakar kuat sekali di hati warga Iran. Berkat agama ini, mereka dapat mengusir negeri-negeri penyerang: Jenghis Khan, serbuan orang Turki, dan serbuan orang Arab.
Tradisi Syiah selalu tak menghendaki adanya penguasaan oleh negeri asing ataupun pemerintahan asing yang menggunakan kekuatan penguasa dalam negeri sendiri. Kaum Syiah Iran berhasil mematahkan keinginan dan nafsu orang-orang Inggris dan Rusia yang ingin memonopoli perdagangan teh dan minyak di Iran.
Ketika terjadi kudeta terhadap PM Moshadeq yang nasionalis di tahun 1953, seperti halnya ketika terjadi pemberontakan besar yang mengakibatkan 15.000 orang lebih terbunuh 10 tahun kemudian (1963), perlawanan warga Syiah mulai muncul.

Di awal tahun 1978, perlawanan terhadap rezim Shah Reza Pahlavi dengan jalan penghancuran ekonomi: pemogokan, demonstrasi, sabotase, dan penutupan bazar. Lalu jalan militer ditempuh dengan cara pembunuhan terhadap beberapa orang kejam pro-Shah dan akhirnya pengangkatan Bazargan sebagai PM Iran pada 7 Februari 1979, ketika pemerintahan Shah Iran yang diwakili PM Syapur Bakhtiar masih berlangsung.
“Puncak dari semua itu adalah perjuangan bersenjata pada 10 dan 11 Februari 1979 untuk menggulingkan rezim Shah Iran secara total,” tulis Nasir Tamara.
Karakter dan kultur kaum Syiah, kekuatan mayoritas kaum Islam di Iran, yang kokoh, militan, tahan banting, selalu resisten terhadap penguasa asing dan rezim zalim, serta kuat berjuang dalam tempo lama terpatri kuat hingga sekarang.
Negara ini telah 47 tahun diembargo Amerika Serikat dan banyak negara-negara Barat lain. Namun, Iran tetap kokoh berdiri, stabil, tak terpecah-belah, dan bernas sebagai sebuah bangsa. Iran mampu memberikan perlawanan all out dan mengejutkan atas agresi Amerika Serikat dan Israel.
Karakter dan kultur ajaran Syiah Iran yang benci penindasan, rezim despotik dan zalim, dan politik ketidakadilan jadi energi luar biasa bagi bangsa Iran dalam menghadapi banyak tantangan berat sejak revolusi Islam 1 Februari 1979 hingga sekarang. [habis]
Ainur Rohim,
Direktur Utama beritajatim.com.






