Ponorogo (beritajatim.com) – Sebanyak 22 rumah di lereng Gunung Banyon di Desa Talun Kecamatan Ngebel Ponorogo, masuk zona rawan bencana. Hal itu merupakan hasil pemetaan dari tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Jawa Barat yang beberapa hari lalu melakukan peninjauan di lokasi longsor Gunung Banyon.
Warga yang menghuni 22 rumah itu, oleh tim PVMBG disarankan untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman. Sebab, rumah itu masuk zona rawan yang berpotensi dilintasi oleh banjir bandang.
Retakan tanah di Gunung Banyon muncul pertama kali pada tahun 2016 lalu. Memang saat itu retakannya masih tergolong kecil. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan musim kemarau yang terjadi setiap tahunnya, gerakan tahan kembali terjadi pada tahun 2017. Beda dengan gerakan tanah tahun 2016 yang hanya retakan tenah, pada tahun 2017 lalu gerakan tanahnya cukup besar.
“Gerakan tanah di Gunung Banyon Desa Talun ini sudah terjadi berulang kali. Nah, pada bulan Oktober 2022 itu retakan tanahnya menyebabkan tanah longsor,” kata Penyelidik Bumi PVMBG, Gibar M. Suryadana, ditulis Senin (14/11/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”ponorogo”]
Keadaan saat ini, kata Gibar zona longsoran yang terjadi pada bulan Oktober lalu itu, tepat berada di zona retakan tanah tanah atau longsor pada tahun 2017 lalu. Pun lintasan longsoran pada bulan Oktober lalu, juga melintasi bekas longsoran tahun 2017. Dari pengamatan tim PVMBG, mahkota longsor yang ada saat ini terjadi material yang menumpuk.
“Material yang menumpuk itu, ditambah dengan kondisi sumber air di lokasi cukup besar, maka bisa membentuk bendungan alam,” katanya.
Nah, yang menjadi kekhawatiran, jika bendungan alam itu bisa berpotensi pecah, jika suplai airnya yang tinggi. Alhasil, air yang semula terbendung itu, akan turun mengikuti aliran sungai. Celakanya, aliran itu bisa menuju rumah yang ada dibawahnya. “Itulah yang berpotensi banjir bandangnya. Sebab aliran air dari bahan rombakan, bisa berupa aliran lumpur dan batu terbawa ke bawah,” katanya.
Mahkota longsor yang membentuk bendungan alam itu, jika pecah bisa meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi. Hanya beberapa menit saja sudah sampai zona rawan atau pemukiman warga. Sebab jarak mahkota longsor dan pemukiman warga hanya terpaut 700 meter. Kondisi jarak yang cukup dekat itu, ditambah dengan rata-rata kemiringan medan yang mencapai 35 derajat. Itu lintasan termasuk kategori terjal.
“Potensi banjir bandang itu tentu faktor pemicunya jika curah hujan tinggi. Namun, jika terjadi fenomena La Nina, malah bisa terjadi gerakan tanah yang lebih besar,” katanya.
Untuk diketahui sebelumnya, tanah longsor di Gunung Banyak dipantau oleh tim PVMBG . Tim PVMBG melakukan survei di mahkota longsoran dibagian atas. Hasil pantauan sementara, lokasinya masih berpotensi ada gerakan tanah. Dimana dimensinya dilihat masih cukup luas. Selain melakukan survei bagian atas, Gibar juga akan melakukan survei pada bagian bawah longsoran. Pemantauan di bagian bawah ini, dilakukan untuk mengetahui daerah-daerah mana saja yang terancam.
“Kita juga ngecek pakai drone. Untuk ambil foto udara di lokasi-lokasi itu. Setelah melihat hasil foto, bisa mengetahui arah gerakan retakan. Sehingga kita juga bisa melakukan pemetaan daerah-daerah mana saja yang harus direlokasi,” pungkas Gibar. (end/kun)






