Yogyakarta (beritajatim.com) – Prihatin dengan maraknya kasus mahasiswa KKN yang viral akibat bad attitude alias sikap buruk dalam kehidupan bermasyarkat selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNV) Yogyakarta ingin menghapus stigma tersebut.
Maka dari itu mereka kemudian mencari cara supaya lebih mudah diterima dan memberikan manfaat selama melaksanakan KKN di kawasan Desa Karangsasem Dlingo Bantul DIY ini.
Ketua Tim PkM UPNVY Oliver Samuel Simanjuntak mengungkapkan kasus KKN yang viral dan dibenci warga akibat sikap buruk mereka ini menjadikan pembelajaran bagi dirinya dan tim. Maka dari itu dalam KKN tersebut timnya berinisiatif membantu kelompok pengrajin bambu Desa Karangasem untuk meningkatkan pengetahuannya tentang pemasaran digital.
“Pendampingan berupa produksi konten multimedia, teknik storytelling untuk memperkuat informasi produk, dan teknis pemasaran secara digital. Sifatnya transfer ilmu jadi nanti diharapkan pengrajin bisa melanjutkannya secara mandiri,” papar dia.
Selain terkait pemasaran, tim juga akan melakukan pendampingan terkait prosedur standarisasi produk dan manajemen. Hal ini penting agar kualitas produk kerajinan bambu Desan Karangasem terjaga dengan baik.
“Harapannya dengan pendampingan ini pengrajin bambu Desa Karangasem dapat memperluas jangkauan konsumennya secara mandiri, tidak tergantung pada reseller,” terangnya.
AAdapun ide pemasaran digital ini dilakukan lantaran perajin bambu di Desa Karangasem Kabupaten Bantul mengaku masih terkendala pengetahuan tentang pemasaran digital untuk memasarkan produknya.
Melalui pendampingan yang dilakukan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Yogyakarta (UPNVY) mereka berharap bisa menjangkau lebih banyak konsumen dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi.
“Kami berharap bisa diajari dari awal sampai nanti bisa,” ujar salah satu pengrajin, Karyadi.
Baca Juga: KAI Daop 6 Yogyakarta Sanksi Tegas Penumpang Melebihi Relasi
Dia mengatakan meskipun sudah memiliki media sosial tetapi sejauh ini pihaknya dan pengrajin lain di wilayah Desa Karangasem belum mampu mengelola secara optimal. Pemasaran yang dilakukan mayoritas masih bersifat tradisional sehingga belum mampu meningkatkan jumlah penjualan secara signifikan.
“Untuk katalog digital kami juga belum punya,” tambah pengrajin lain Suryanto.
Lebih lanjut pengrajin lain yang lebih berpengalaman menjual produk secara online, Supri mengaku sejauh ini pihaknya sudah memulai untuk menjangkau konsumen melalui media sosial dan marketplace. Hanya saja, diakuinya apa yang dilakukan belum optimal lantaran keterbatasan pengetahuan terkait produksi konten.
“Kami pernah diajari mahasiswa KKN (kuliah kerja nyata, red) cara memfoto produk. Hanya saja setelah selesai semua perlengkapan dibawa sehingga kami tidak bisa melanjutkan,” imbuh dia.
Desa Karangasem, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul merupakan sentra kerajinan bambu. Mayoritas masyarakat di sini terampil membuat kerajinan bambu bahkan di usia yang masih sangat muda, yakni sekolah dasar. Di setiap rumah terlihat aktivitas menganyam bambu yang dilakukan baik kaum laki-laki maupun perempuan.
Meskipun bahan baku bambu tidak seluruhnya berasal dari wilayah desa setempat, tetapi produksi kerajinan di wilayah ini tidak pernah mati, bahkan di masa pandemi Covid-19 kemarin produksi besek (tempat makanan dari bambu) tetap berjalan. (aje/ted)






