Surabaya (beritajatim.com) – Tikus sawah ternyata bisa dikalahkan tanpa pestisida. Yulia Rahmawati, mahasiswa Teknik Industri Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya dengan IPK 3,86, membuktikan burung hantu dan pupuk organik bisa jadi senjata ampuh bagi petani desa.
Dalam penelitian skripsinya, Yulia menemukan pupuk organik mampu menjaga kesuburan tanah sekaligus mengurangi biaya produksi. Di sisi lain, burung hantu berfungsi sebagai predator alami yang efektif memangkas populasi tikus.
“Kalau tikus terkendali, hasil panen meningkat. Ini sejalan dengan pertanian berkelanjutan dan lebih ramah lingkungan,” jelas Yulia, Sabtu (23/8/2025).
Penelitian ini tidak hanya berhenti di ruang kelas. Yulia turun langsung ke Desa Bendosewu dan Desa Kaweron, Kabupaten Blitar, untuk mengamati sawah, berdiskusi dengan petani, hingga menyebarkan kuesioner.
Semua data kemudian ia analisis menggunakan metode SEM-PLS dan model sistem dinamis dengan bantuan software Smart-PLS serta Stella. Hasilnya cukup jelas, kombinasi pupuk organik dan burung hantu terbukti mampu menekan biaya, menjaga lingkungan, dan menambah keuntungan petani.
Bahkan, model sistem dinamis yang dirancang Yulia bisa memprediksi kondisi pertanian desa hingga beberapa tahun ke depan, sehingga petani mendapat gambaran skenario terbaik untuk menjaga ketahanan pangan.
“Harapan saya, penelitian ini bisa diterapkan di desa-desa lain, bukan hanya berhenti di kampus. Kalau petani sejahtera, ketahanan pangan nasional juga lebih kuat,” tambahnya.
Skripsi Yulia mendapat apresiasi karena berhasil mengawinkan ilmu pertanian, ekologi, dan teknologi dalam satu penelitian terapan. Ia dijadwalkan diwisuda pada 30 Agustus 2025 di Untag Surabaya, bersama ratusan mahasiswa lain. [ipl/ted]






