Surabaya (beritajatim.com) – Krisis sampah plastik masih jadi ancaman serius bagi lingkungan. Tidak hanya di darat, limbah plastik juga menumpuk di kawasan pesisir dan laut.
Dari kondisi itu, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Maya Shovitri menemukan potensi bakteri dari hutan mangrove Wonorejo, Surabaya yang mampu mendegradasi limbah plastik.
Profesor dari Departemen Biologi ITS itu menjelaskan, bakteri memiliki metabolisme unik untuk mendaur ulang material organik maupun anorganik. “Kemampuan ini membuat bakteri bisa bertahan hidup bahkan di tumpukan limbah plastik,” kata Maya, Rabu (22/10/2025).
Sejak 2013, Maya meneliti proses biodegradasi plastik oleh isolat bakteri. Wilayah mangrove Wonorejo dipilih karena dikenal sebagai titik akumulasi sedimen dan sampah plastik. “Kawasan ini habitat ideal menemukan bakteri spesifik yang mampu bertahan sekaligus mendegradasi plastik,” ujarnya.
Dalam risetnya, alumnus University of Bremen, Jerman itu menggunakan beberapa metode seperti Winogradsky column, soil burial, dan overlying water. Potongan tas plastik dimasukkan ke sedimen dan air laut mengandung bakteri. “Proses ini memungkinkan bakteri beradaptasi lalu memulai degradasi,” jelasnya.
Tahapan berikutnya adalah isolasi dan karakterisasi bakteri menggunakan analisis biokimia serta molekuler gen 16S rRNA. Hasilnya, ditemukan empat genus utama, antara lain Bacillus, Brevibacillus, Lysinibacillus, dan Pseudomonas yang mampu menghasilkan enzim lipase, alkane hidroksilase, dan ligninolitik.
“Enzim-enzim ini menurunkan berat kering plastik hingga 12 persen dalam waktu 16 minggu,” ungkap Maya.
Penelitian ini, lanjutnya, masih bisa dikembangkan untuk memahami gen-gen yang berperan dalam degradasi plastik serta faktor lingkungan yang mempengaruhi efektivitas enzim. “Semakin cocok kondisi lingkungannya, semakin tinggi kemampuan bakteri dalam mendegradasi plastik,” imbuhnya.
Maya berharap hasil penelitiannya dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah untuk mendukung ekonomi biosirkular.
“Dari ekosistem mangrove, kita bisa menemukan jawaban atas tantangan global pencemaran plastik,” pungkas Kepala Departemen Biologi ITS periode 2011–2015 tersebut. [ipl/aje]






