Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa se-Malang Raya mendeklarasi pemilu damai tanpa demokrasi di lapangan kampus Politeknik Negeri Malang pada Rabu (27/9/2023) sore yang dihadiri sekitar 800an mahasiswa se-Malang Raya.
Presiden mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang juga menjadi pembaca deklarasi, Rafly Rayhan Al Khajti menjelaskan bahwa tujuan dari acara ini untuk merefleksikan demokrasi yang sedang berjalan. Baik refleksi selama pemerintahan presiden Joko Widodo maupun refleksi menjelang pemilu 2024 mendatang.
“Kami harap anak muda bisa merefleksikan apa yang disebut sebagai demokrasi. Kami sebagai mahasiswa punya tanggung jawab besar untuk mengingatkan pada diri sendiri, kepada kawan mahasiswa lain, termasuk juga kepada seluruh elemen masyarakat untuk bergandengan tangan menuju demokrasi sehat,” ujar Rafly, sapaannya.
Demokrasi sehat, lanjut Rafly, dapat diartikan sebagai demokrasi yang ideal, artinya demokrasi yang memberi partisipasi cukup kepada masyarakat, membuka ruang sebebas-bebasnya, dengan tetap mengikuti koridor hukum yang berlaku. Menurutnya, saat ini banyak terjadi degradasi pemahaman demokrasi di tengah masyarakat.
“Seolah-olah sekarang ini demokrasi sama dengan anarkisme. Dalam deklarasi ini kita semua menginginkan agar ingat kembali apa yang dicita-citakan di dalam prinsip negara demokrasi,” lanjut Rafly dengan penuh semangat.
Dijelaskan Rafly bahwa mahasiswa yang terlibat langsung dalam acara ini berasal dari 4 kampus di Malang Raya, yaitu UB, Polinema, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Islam Malang (Unisma). Namun, pihaknya mengakomodir mahasiswa se Malang Raya bukan dari segi institusi, melainkan dari komitmen untuk menyelenggarakan deklarasi pemilu damai.
Rafly menilai demokrasi yang terjadi saat ini serba bias karena di satu sisi dapat dipandang sebagai ruang yang bebas untuk menyampaikan aspirasi. Namun, disisi lain demokrasi masih disalahgunakan.
“Itu yang ingin kita hindari bersama, jadi jangan sampai kita menuju disintegrasi bangsa. Kita harus paham cara bersuara dengan tetap menghormati hak-hak orang lain dan tanpa mencederai aspirasi orang lain,” tegas presma UB.
Perwakilan mahasiswa lain, Rifkyi Irwan Mahfaud yang juga menjabat presma Unisma menyampaikan bahwa generasi z (gen z) saat ini menjadi terdepan dalam penentu pemilu 2024. Oleh sebab itu penting bagi gen z untuk menyuarakan pemilu damai dan sehat ke ranah masyarakat luas.
“Pemuda ini punya partisipasi garda terdepan karena dari jutaan pemilih suara pemuda sekitar 54 % dalam pemilu tahun 2024 ini. Kita harap pemuda bisa berperan aktif untuk menciptakan pendidikan politik, mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan demokrasi damai dan sehat dan bisa dibawa ke ranah masyarakat,” ungkap Rifkyi.
Hal senada disampaikan oleh presma Polinema, Ahmad Asas Hakiki. Dengan total pemilih dari generasi z sebanyak 52%, ia berharap agar gen z tidak hanya di objektifikasi saja. Kaum gen z jangan hanya dijadikan objek mencari suara saja.
“Kami tidak ingin hanya dijadikan klaim saja atau diakui bahwa salah satu capres berasal dari gen z. Per hari ini saya merasa gen z itu hanya menjadi objektifikasi semata, maka dari itu besar harapan kami mahasiswa memberikan kontribusi aktif, ambil peran dalam konteks pemilu ini,” ungkap Asas Hakiki. (dan/kun)






