Malang (beritajatim.com) – Kekhawatiran terhadap dampak negatif konsumsi Monosodium Glutamat (MSG) dalam jangka panjang mendorong terciptanya inovasi baru di dunia kuliner. Ulayyaa Zulfaa, mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, berhasil menciptakan penyedap rasa alami berbahan dasar tempe Malang dan jamur tiram.
Inovasi ciptaan mahasiswa ini diharapkan menjadi solusi alternatif sehat pengganti MSG di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola makan yang lebih baik. Apalagi, MSG sering dikaitkan dengan efek samping seperti alergi, sakit kepala, hingga risiko kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Menyadari hal ini, Ulayyaa mengembangkan penyedap rasa alami yang tidak hanya aman, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan. “Produk ini dapat memperkuat rasa masakan secara alami dan menjadi pengganti MSG, terutama bagi mereka yang alergi atau ingin mengurangi konsumsi MSG,” ungkap Ulayyaa, Selasa (10/12/2024).
Tempe Malang dan jamur tiram menjadi pilihan utama karena nilai gizinya yang tinggi. Tempe mengandung protein, serat, dan isoflavon, sementara jamur tiram kaya akan vitamin dan protein.
Selain itu, kedua bahan ini melimpah di Malang, menjadikannya sumber daya lokal yang potensial untuk dikembangkan ke tingkat nasional maupun internasional. Ulayyaa menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi bahan lokal, tetapi juga menciptakan peluang besar untuk mengisi pasar pangan fungsional yang sedang berkembang.
Berkat ide inovatif ini, Ulayyaa meraih Hibah Indofood Riset Nugraha (IRN) 2024-2025. IRN mengangkat tema Penelitian Pangan Fungsional Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal untuk mendukung mahasiswa dalam menciptakan produk berbasis inovasi pangan.
Melalui proses penelitian yang mendalam, Ulayyaa menguji berbagai kombinasi tempe dan jamur tiram untuk menghasilkan penyedap rasa dengan kualitas optimal. Penelitian ini juga mengintegrasikan pengujian fisik dan kimia, termasuk kadar protein, serat, dan rasa produk akhir.
Produk penyedap rasa berbahan tempe dan jamur tiram ini bukan sekadar solusi alternatif, tetapi juga bagian dari gerakan global menuju pola makan sehat dan berkelanjutan. Dengan keberhasilan Ulayyaa, penelitian ini membuka jalan bagi pengembangan produk pangan fungsional berbasis lokal yang dapat bersaing di pasar internasional.
“Inovasi ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak kesehatan yang positif, tetapi juga menjadi bukti bahwa bahan lokal seperti tempe dan jamur tiram memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi,” kata Ulayyaa menutup. (dan/but)






