Malang (beritajatim.com) – Sebanyak 12 mahasiswa lintas negara dari jenjang sarjana hingga pascasarjana mendalami ekosistem industri kopi Indonesia melalui program Summer Course bertajuk “Banyuwangi Coffee Learning Program: Field Study, Workshop and Cultural Engagement from Farm to Cup”.
Kegiatan yang berlangsung pada 7-15 April 2026 ini memfokuskan pembelajaran pada tata kelola kopi rakyat secara komprehensif langsung dari jantung perkebunan di Kabupaten Banyuwangi.
Program strategis ini diinisiasi oleh Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB) yang bersinergi dengan dua kampus ternama Malaysia, yakni Universiti Teknologi MARA (UiTM) dan Universiti Malaysia Sabah (UMS).
Selama satu pekan, para peserta menetap di Desa Kalipuro untuk mengikuti rangkaian studi lapangan, mulai dari teknik budidaya di lahan agroforestri hingga seni penyajian kopi secara tradisional.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Dr. Muhammad Yusuf, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa asing dalam memahami interaksi antara petani, alam, dan komoditas kopi.
“Di Banyuwangi, peserta berinteraksi langsung dengan warga lokal. Tujuannya agar mereka tidak hanya paham teknis, tetapi juga mengenal budaya, varietas kopi rakyat, hingga pengetahuan pascapanen tradisional yang menghasilkan cita rasa unik,” ujar Dr. Yusuf.
Dalam pelaksanaannya, Dr. Yusuf didampingi oleh tim pengajar ahli, yakni Mufidah Afiyanti, S.P., Ph.D. dari UB dan Dr. Umi Hartina Binti Mohamad Razali dari UMS. Selama 10 hari (3 hari daring dan 7 hari luring), mahasiswa dibekali materi intensif meliputi klasifikasi flora agroforestri, praktik grafting (sambung pucuk), pruning (pemangkasan), hingga teknik pemetikan biji kopi yang tepat.
Selain aspek teknis, para peserta diajak berdiskusi mengenai isu-isu krusial seperti manajemen sumber daya alam di Asia Tenggara, mitigasi perubahan iklim, hingga fluktuasi harga pasar global. Edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam bidang rural studies dan ketahanan pangan.
Imron, petani kopi sekaligus pendiri MEM Secang Kalipuro, menekankan pentingnya pelestarian hayati dalam perkebunan kopi. “Kalipuro adalah salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati agroforestri yang tinggi. Pengelolaan tradisional yang kami pertahankan menjadi daya tarik sekaligus solusi keberlanjutan bagi masyarakat,” tuturnya.
Salah satu peserta asal Malaysia, Muhammad A’rif Bin Mohd Ajib dari UiTM, mengaku terkesan dengan sistem pertanian di Banyuwangi. Ia menilai pengalaman ini membuka wawasan baru mengenai potensi peningkatan kualitas kopi melalui keberagaman jenis tanaman.
“Ini adalah pengalaman pertama saya di Banyuwangi. Sangat berharga dan membuka mata. Saya tertarik untuk mempelajari lebih dalam bagaimana meningkatkan kualitas kopi dengan beragam varietas yang ada di sini,” ungkap A’rif.
Agenda tahunan Departemen Biologi UB ini tidak hanya sekadar pertukaran pelajar, namun juga menjadi implementasi nyata dari tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini mencakup lima poin krusial SDGs, yakni SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), peningkatan kapasitas akademik melalui studi lapangan. SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), mendorong kemandirian ekonomi petani kopi lokal.
SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), praktik budidaya ramah lingkungan. SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), adaptasi pertanian terhadap anomali cuaca. Kemudian, SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), kolaborasi lintas institusi internasional dan masyarakat. (dan/ian)






