Surabaya (beritajatim.com) – Agenda Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di Jatim Expo pada 8-17 November 2024 adalah sebuah gerakan. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan ekosistem dalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan.
“Berdampak atau tidak, kami akan terus bergerak. Kami yakin banyak pihak akan tetap mendukung kami, termasuk Pemprov Jawa Timur. Terutama para pelukis dan orang-orang yang masih peduli,” kata Ketua Sanggar Merah Putih yang juga penyelenggara PSLI 2024, M Anis di Surabaya, Senin (4/11/2024) petang.
Dia mengutarakan, seni lukis dan item kebudayaan lainnya mesti terus digelorakan dan dipamerkan kepada publik. “Di PSLI nanti banyak pecinta seni, penikmat lukisan, para kolektor, dan juga pemilik galeri. Kami tidak sendiri. Keindahan memang harus terus menerus disebarluaskan, agar keseimbangan tetap terjaga,” tambahnya.
M Anis yang juga wartawan senior ini mengemukakan, pameran lukisan sekarang ini sedang digelar di mana-mana di Indonesia. Sejak pandemi Covid-19 dinyatakan berhenti melalui Keppres Nomor 17 Tahun 2023, para seniman seperti berhamburan keluar dari studionya.
Dua tahun mendekam di rumah atau studio hanya untuk melukis dan melukis, para pelukis itu sekarang bernafas lega. Kemudian menggotong karya-karya baru mereka yang lebih kontemplatif. Lebih dalam.
Pada masalah teknis maupun nonteknis, pandemi mengajarkan banyak hal dalam proses berkarya. Tapi para pelukis, menurutnya, justru menelan kecewa. Gairah mereka dalam berkarya, dan semangat berpameran yang ada pada mereka, tidak sebanding dengan respon pasar, respon masyarakat dan respon negara.
“Kondisi perekonomian tentu menjadi penyebab adanya respon yang dingin-dingin saja ini. Apalagi ketika pandemi masih belum benar-benar hilang, kemudian muncul penyakit kambuhan yang tak kalah menguras dana, tenaga dan pikiran: politik. Baik berupa agenda pemilu legislatif, pilpres dan pilkada serentak sekarang ini,” kata Anis,
“Semua lini babak belur, dampaknya pasti juga ke lukisan.Tetapi para pelukis tak pernah mengeluh. Tidak ada pelukis yang menggelar seminar, secara online maupun offline. Membahas apapun misalnya tentang ekosistem dalam seni lukis, kemudian merumuskan road map sebagai masukan untuk pemerintah,” kata dia melanjutkan.
“Tidak ada pelukis yang muncul di layar TV untuk menceritakan betapa sulit mereka sekarang. Dalam hal apa saja. Tapi memang, dunia kesenian tak pernah gaduh. Tidak bising, bahkan cenderung hening. Tetapi tidak pernah diam,” tegas Anis. [air]






