Mojokerto (beritajatim.com) – Jika bicara soal lumpia, pasti ingatan kita akan Semarang, Ibu Kota Jawa Tengah. Ini lantaran makanan yang terkadang dieja sebagai ‘lun pia’ ini adalah sejenis jajanan tradisional perpaduan Tionghoa-Jawa merupakan makanan khas Semarang.
Lumpia terdiri dari lembaran tipis tepung gandum yang dijadikan sebagai pembungkus isian yang umumnya adalah rebung, telur, sayuran segar, daging atau makanan laut. Di Mojokerto banyak terdapat penjual lumpia, namun isian lumpia tidak seperti di kota asalnya, Semarang.
Di wilayah Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto tepatnya di pojok Kolam Segaran terdapat penjual lumpia dengan isian rebung. Rasanya pun mengingatkan akan Lumpia Semarang, namun ukurannya imut sehingga harganya pun menyesuaikan yakni hanya Rp1 ribu.
Pedagang lumpia isi rebung, Erli Anggun Setyowati (26) mengatakan, ia berjualan lumpia isi rebung setelah mencoba karena ingin berjualan yang belum banyak dijual pedagang di sekitar Kolam Segaran. “Kepikiran, inisiatif. Dulukan jualan telur congkel tapi nggak jalan,” ungkapnya, Sabtu (25/2/2023).
Masih kata Erli, ia pun mencari jajanan yang cocok dan belum ada yang dijual. Karena lumpia belum ada yang sehingga ia pun mencoba membuat lumpia isi rebung. Ia mengaku tidak memiliki resep warisan sehingga ia mencoba membuat resep sendiri dan langsung disukai pelanggannya.
“Coba satu kali terus saya jual, alhamdulillah responnya pelanggan banyak yang beli. Ada lumpia isi rebung dan isi tahu. Tidak (mencari rebung), sudah pesan di pedagang sayur langganan. Tidak tentu sih, ramai sampai 10 bungkus sekitar 2 kg. Biasanya Sabtu-Minggu, ramai,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kuliner”]
Awalnya, ia berjualan telur gulung di depan SDN Trowulan setelah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di salah satu pabrik di Sidoarjo. Dengan menggunakan rombong, bersama sang suami Dian Firmanu Aziz (27) ia memulai usahanya berjualan telur gulung.
“Saya sama suami dulu kerja di pabrik di Sidoarjo, ada pandemi Covid-19 itu kena PHK. Kemudian ada yang mengajari telur gulung, orang Mojoagung (Jombang). Awalnya di sana (depan SDN Trowulan) hanya satu bulan, kemudian pindah ke sini karena di sini lebih strategis tempatnya,” katanya.
Meski ia sendiri merupakan warga Jombang, sementara suaminya asal Malang, namun lantaran saudaranya berjualan di sekitar depan SDN Trowulan sehingga ia juga berjualan di tempat yang sama. Setelah telur gulung dulu kemudian nambah jenis makanan yang dijual yakni telur congkel sama aci telur.
“Tapi yang telur congkel nya nggak jalan, peminatnya jarang, hanya satu sampai dua orang saja jadi putar otak. Jualan yang tidak dijual di sekitar sini dan insiatif lumpia dengan isi rebung. Semua harganya sama Rp1 ribu. Tidak (takut rugi). Alhamdulillah rejeki sudah ada yang ngatur,” tuturnya.
Setiap hari, ia buka mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB dan kembali buka pukul 16.30 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB. Dalam sehari, mengaku menjual rata-rata 200 biji baik telur gulung, aci telur maupun lumpia.
“Kalau pas ramai, Sabtu-Minggu setengah hari saja bisa 400 biji. Tiap hari buka, kalau ingin libur ya libur,” pungkas pasangan suami-istri (pasutri) yang ngontrak di belakang masjid depan Kolam Segaran, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [tin/kun]
![Lumpia Imut Pojok Kolam Segaran, Ingatkan Memori Akan Semarang Bersama sang suami, Anggun menyiapkan lumpia pesanan pelanggan. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/02/IMG_20230225_183259.jpg)







