Surabaya (beritajatim.com) – Pagi itu, di tengah deretan toga dan senyum para wisudawan, nama Pandya Bhagaskara disebut sebagai yang terbaik. IPK 3,90 dan masa studi tujuh semester membawanya ke podium tertinggi wisuda ke-261 Universitas Airlangga.
“Saya tidak menyangka bisa meraih predikat ini. Tapi saya selalu berusaha menjaga hasil akademik tetap optimal,” tutur Bhagas di Airlangga Convention Center (ACC), Sabtu (11/4/2026).
Bhagas tidak tiba di titik itu secara instan. Sejak awal kuliah, dia membangun ritme belajar yang disiplin, menata waktu, dan menetapkan target di setiap semester.
“Saya selalu membuat target tiap semester dan membagi waktu dengan ketat agar semua bisa berjalan seimbang,” katanya.
Di balik angka-angka akademik, ada pilihan yang ia pegang teguh. Bhagas tidak hanya mengejar nilai, tetapi berusaha memahami setiap materi yang dipelajari secara mendalam.
“Kunci utamanya bukan hanya belajar keras, tapi belajar secara konsisten dan benar-benar memahami materi,” ujarnya.
Semester akhir menjadi babak paling menantang. Skripsi, KKN, dan persiapan uji kompetensi datang bersamaan, menuntut fokus dan ketahanan mental.
“Di fase itu saya harus benar-benar disiplin membagi waktu agar semua tanggung jawab bisa selesai dengan baik,” katanya.
Langkahnya juga tidak berhenti di ruang kuliah. Bhagas aktif mengikuti kompetisi ilmiah dan mencatatkan sejumlah prestasi sebagai bagian dari proses belajar.
“Saya ingin tidak hanya fokus di nilai, tapi juga mengasah kemampuan melalui kompetisi,” ujarnya.
Di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang selalu ia jaga. Dukungan keluarga menjadi fondasi yang membuatnya tetap berdiri saat tekanan datang.
“Peran keluarga sangat besar dalam menjaga semangat saya tetap stabil,” katanya.
Kini, setelah perjalanan panjang itu terlewati, Bhagas menyimpan satu pesan sederhana. Bagi dia, masa kuliah adalah ruang untuk tumbuh, bukan hanya mengejar kelulusan.
“Jangan menunda skripsi, dan manfaatkan waktu kuliah untuk berkembang,” pungkasnya. [asg/ian]






