Surabaya (beritajatim.com) – Luluk Nur Hamida, calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 1, merupakan sosok yang menarik perhatian dalam pemilihan kali ini.
Berusia 53 tahun dan asli Jombang, Luluk telah menjalani perjalanan hidup yang penuh dinamika sejak kecil. Ia lahir dan besar di Jombang, sebuah tempat yang berperan besar dalam membentuk kepribadiannya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA di Malang, ia semakin membuka wawasannya tentang kehidupan di berbagai daerah, khususnya Jawa Timur.
Dalam wawancara terbarunya di kantor beritajatim.com, Luluk menceritakan tentang masa kecilnya yang penuh tantangan.Ibunya, yang saat itu telah menjadi seorang janda dengan empat anak, memberikan pelajaran penting tentang ketangguhan.
Pada usia 9 tahun dan memulai hidup di Surabaya, Luluk pun mengaku telah khatam membaca cerita-cerita besar seperti Mahabharata, Ramayana, hingga karya pujangga baru. “Buku-buku ini yang secara tidak langsung membentuk saya hingga saat ini,” tambahnya.
Perjalanan Hidup Luluk: Dari Desa ke Panggung Politik
Tidak hanya terinspirasi oleh buku, kehidupan Luluk juga dipengaruhi oleh pengalaman nyata. Di usia muda, Luluk kerap diajak ibunya yang aktif di dunia politik sebagai juru kampanye partai Golkar.
Perjalanannya ke berbagai daerah seperti Surabaya, Kediri, dan Tuban membuka matanya tentang dinamika masyarakat Jawa Timur yang heterogen.
“Ayah saya dulunya adalah pegiat Nahdlatul Ulama (NU) dan ibu pernah aktif di politik sebelum akhirnya berhenti pada tahun 1987,” kenang Luluk. Pengalaman inilah yang kemudian memberikan wawasan tentang pentingnya etika dalam politik.
Saat ditanya tentang apa yang membedakan Luluk dengan dua srikandi Cagub lainnya? Ia pun menjawabnya dengan tegas.
“Saya tidak pernah menyakiti hati warga Jawa Timur karena saya belum pernah menjabat, dan saya pun tidak ingin melukai warga. Terlebih karena ibu saya juga asli orang Jawa Timur,” katanya.
Jatim Cantik: Visi Luluk untuk Jawa Timur
Luluk Nur Hamida mengusung tagline “Jatim Cantik” dalam kampanyenya. Menurutnya, “Cantik” adalah akronim yang merepresentasikan visi besar untuk Jawa Timur, yakni Cerdas, Inklusif, dan Inovatif. Ia percaya bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar untuk bersaing di era digital dan global.
Pendidikan inklusif, menurut Luluk, menjadi salah satu prioritasnya untuk memberikan kesempatan yang setara bagi semua warga, termasuk penyandang disabilitas dan korban ketidakadilan.
Di bidang inovasi, Luluk berkomitmen untuk mencari pembaruan di berbagai sektor, terutama dalam memimpin provinsi sebesar Jawa Timur. Ia menyadari bahwa untuk memajukan daerah, diperlukan pemimpin yang visioner dan siap beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Saya ingin menjadi pemimpin yang tidak hanya mengikuti arus, tapi juga menciptakan arus baru yang lebih baik,” tegas Luluk.
Dengan latar belakang sebagai akademisi dan pengamat politik, ia yakin mampu membawa perubahan yang signifikan bagi Jawa Timur.
Kenapa Luluk Berbeda?
Luluk mengungkapkan bahwa yang membedakan Luluk dari calon lain adalah kejujurannya dan komitmennya terhadap etika politik. “Saya tidak ingin menyalahgunakan jabatan, karena itu sama dengan menyakiti warga Jawa Timur,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya etika dalam setiap proses politik, baik dalam kampanye maupun saat menjabat nanti.
Luluk juga memiliki pandangan yang menarik tentang pemilih pemula. Baginya, pemilih pemula cenderung tidak memiliki ideologi yang kuat, sehingga pendekatan yang dekat dan personal sangat penting. “Semoga kedekatan ini bisa merebut hati mereka,” harapnya.
Warna Ungu: Simbol Spiritual dan Perempuan
Luluk dikenal dengan gaya busana khasnya, yaitu turban dan dominasi warna ungu. Ketika ditanya mengenai pilihan warna ini, ia menjelaskan bahwa ungu melambangkan kekuatan perempuan dan spiritualitas.
“Sejak kecil, orang tua saya sering membelikan baju warna ungu. Warna ini melambangkan perjuangan perempuan dan menyatukan gerakan-gerakan perempuan di dunia,” jelasnya.
Bagi Luluk, ungu juga memberikan rasa nyaman dan menambah kepercayaan diri. “Warna ungu membuat saya merasa percaya diri. Saya tidak akan mengganti gaya ini, karena sudah menjadi bagian dari diri saya selama lebih dari 25 tahun,” tambahnya. [fyi/aje]






