Bojonegoro (beritajatim.com) – Dibanding tahun sebelumnya, luasan lahan tembakau di Kabupaten Bojonegoro mengalami peningkatan. Pada 2024 luas lahan pertanian tembakau ada 15.959 hektar, meningkat 4.770 hektar dibanding pada 2023 hanya seluas 11.189 hektar.
Meningkatnya luas lahan tembakau dipengaruhi harga tembakau yang cukup mahal. Tingginya harga tembakau di tahun lalu membuat sejumlah petani di Kabupaten Bojonegoro pada musim kemarau ini beralih dari menanam jagung ke tanaman tembakau.
“Sampai Agustus 2024, realisasi tanam tembakau mencapai 15.959,94 hektar,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Imam Nurhamid Arifin, Rabu (11/9/2024).
Berdasar data di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, target lahan tembakau tahun ini sekitar 12.892 hektar. Jumlah itu meliputi, lahan tembakau jawa sekitar 2.339 hektare di 89 desa dan target jenis tembakau virginia 10.553 hektare di 117 desa. Total terdapat 206 desa dengan jumlah petani 47.507 orang.
Jumlah luasan tembakau hingga Agustus 2024 terdapat tambahan sekitar 45 desa dan jumlah petani 1.390 orang. Sehingga, total terdapat 251 desa dan jumlah petani 48.897 orang. Dengan total luas tanam tembakau mencapai 15.959 hektare per Agustus tahun ini.
Dia mengatakan, luas tanam tembakau meningkat karena beberapa wilayah yang sebelumnya tidak menanam tembakau, tahun ini menanam. Seperti, petani di Kecamatan Kapas, Trucuk, Margomulyo, Gayam, dan Kalitidu.
“Kenaikan harga tembakau yang terjadi sejak 2023 lalu juga mempengaruhi minat petani untuk menanam tembakau tahun ini,” katanya.
Namun tak sesuai yang diharapkan para petani, dengan banyaknya petani yang menanam tembakau, membuat harga tembakau di kabupaten Bojonegoro mengalami penurunan meskipun tidak signifikan.
Hal itu dituturkan oleh Rudi, salah satu petani Tembakau asal Desa Bakulan Kecamatan Temayang Bojonegoro. Di tahun ini harga tembakau kering rajang daun tengah dengan kualitas bagus mencapai Rp38 ribu sampai Rp40 ribu per kilogramnya.
“Jika dibandingkan dengan tahun lalu Rp47 ribu sampai Rp50 ribu per kilogramnya,” kata Rudi.
Ia memprediksi harga tembakau akan terus mengalami penurunan dikarenakan hujan di akhir-akhir ini telah mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Bojonegoro.
“Kata orang tua dulu mas, kalau tahun genap pasti harga tembakau turun, kalau tahun ganjil biasanya mengalami kenaikan, malah di tahun ini diperparah dengan turunnya hujan pasti akan mengurangi kualitas tembakau,” pungkasnya. [lus/but]






