Merauke (beritajatim.com) – Seiring dengan penetapan Merauke sebagai gerbang utama logistik Provinsi Papua Selatan, beban kerja Pelabuhan Merauke kini berada di titik kritis. Peningkatan arus barang yang mencapai 14 persen dalam dua tahun terakhir memicu desakan dari berbagai pihak untuk segera membangun depo peti kemas di luar area pelabuhan guna menghindari kelumpuhan distribusi.
Berdasarkan data PT Pelindo Terminal Petikemas (TPK) Merauke, arus peti kemas pada tahun 2025 melonjak hingga 52.715 TEUs. Pertumbuhan yang konsisten sejak 2023 ini mengakibatkan tingkat keterisian lapangan (Yard Occupancy Ratio) rata-rata menyentuh angka 75 persen, sebuah angka yang mengkhawatirkan bagi kelancaran operasional pelabuhan.
Ketua DPC ALFI/ILFA Merauke, Abi Bakri Alhamid, menegaskan bahwa pembangunan depo di luar pelabuhan adalah solusi jangka panjang yang tidak bisa ditunda lagi. Saat ini, keterbatasan lahan menyebabkan penumpukan kontainer yang menghambat arus distribusi ke gudang distributor.
Senada dengan hal tersebut, Kepala PT SPIL Cabang Merauke, Puji Hermoko, menyoroti campur aduknya aktivitas operasional di dalam pelabuhan. “Kegiatan stripping (bongkar muat isi) dan stuffing yang masih dilakukan di dalam pelabuhan membuat lapangan penumpukan sangat padat. Dampaknya, waktu tunggu kapal (dwelling time) meningkat karena proses bongkar muat tidak optimal,” jelas Puji.
Kepala KSOP Kelas IV Merauke, Julivan Ch. L. Salindeho, mengakui bahwa dari total 1,5 hektar lahan yang tersedia, hanya sekitar 1,2 hektar yang berfungsi optimal. Pihaknya kini tengah memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan Bappenas untuk menyiapkan lahan depo baru, idealnya dalam radius tiga kilometer dari dermaga agar tetap efisien.
Tantangan ini diprediksi akan semakin berat menyusul rencana operasional pabrik tebu di wilayah tersebut. Direktur PT Berkah Mutiara Laut, Suroso, memperingatkan bahwa infrastruktur saat ini harus siap menopang lonjakan logistik dari sektor industri agar rantai pasok masyarakat tetap terjaga.
Meskipun menghadapi kendala lahan, PT Pelindo terus melakukan modernisasi alat. Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, mengungkapkan bahwa pihaknya baru saja mendatangkan unit side loader, head truck, dan chassis tambahan.
“Kami sangat mendukung keberadaan depo di luar pelabuhan. Dengan pemindahan aktivitas stripping dan stuffing ke luar, kami yakin YOR di dalam pelabuhan dapat ditekan hingga 40 persen, sehingga pelayanan kapal bisa jauh lebih cepat,” pungkas Rasul.
Dengan posisi strategis Merauke sebagai denyut nadi ekonomi Papua Selatan, kesiapan infrastruktur pendukung di luar pelabuhan kini menjadi kunci utama agar biaya logistik tetap terkendali dan pembangunan wilayah timur terus melaju.[rea]






