Surabaya (beritajatim.com) – Program bayi tabung atau yang dikenal sebagai in vitro fertilization (IVF) menjadi solusi medis yang semakin relevan bagi pasangan suami istri yang berjuang untuk memiliki keturunan. Salah satunya adalah Nur Endah Wahyuningsih (46), perempuan asal Magelang yang memilih untuk tidak menyerah meski sudah empat kali gagal dalam program bayi tabung.
Nur Endah dan sang suami, Jordy Bertrand, akhirnya berhasil pada percobaan kelima. Hasilnya bukan hanya kehamilan, melainkan kelahiran bayi kembar identik yang berasal dari satu embrio. Sebuah keajaiban medis yang sangat langka terjadi di usia yang secara statistik nyaris mustahil.
“Ada banyak tangis di setiap kegagalan, tapi saya dan suami percaya bahwa jika kami tetap berusaha, Tuhan pasti menunjukkan jalan,” ungkap Nur dengan mata berkaca, Jumat (20/6/2025) di Morula IVF Surabaya.
Dokter spesialis kandungan dari Morula IVF Surabaya, dr. Benediktus Arifin, MPH, SpOG(K), FICS, FESICOG, FIICOG, menjelaskan bahwa keberhasilan hamil dengan satu embrio di usia 45 tahun hanya memiliki peluang sekitar 1 persen. Lebih mengejutkan lagi, kemungkinan embrio tunggal tersebut berkembang menjadi bayi kembar identik hanyalah 1 dari 10.000 kasus.
“Dan kemungkinan embrio tunggal tersebut berkembang menjadi kembar identik? Hanya sekitar 1 dari 10.000 kasus,” ujar dr. Benny.
Melalui teknologi Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A), tim medis memilih embrio terbaik yang sehat secara genetik untuk ditanamkan ke rahim Nur. Keputusan itu terbukti tepat. Dua bayi kembar identik yang sehat berhasil dilahirkan, menjadi bukti nyata keberhasilan ilmu kedokteran dan tekad yang tak menyerah.
“Di ruang operasi, saya tidak bisa menahan haru. Di balik masker dan jubah operasi, saya menangis,” tutur dr. Benny mengenang momen kelahiran.
Kehamilan di usia 46 tahun secara medis masuk dalam kategori risiko tinggi, terutama terkait kelainan genetik pada janin. Namun berkat penerapan teknologi PGT-A dan kerja tim medis yang solid, kehamilan berjalan lancar dan bayi lahir dalam kondisi sehat sempurna.
Kisah Nur dan Jordy menjadi simbol harapan bagi banyak pasangan. Bahwa tak ada kata terlambat selama masih ada usaha, dan bahwa mukjizat bisa hadir lewat sentuhan teknologi medis.
“Saya tidak hanya merasa menjadi orang tua, tapi juga saksi dari mukjizat. Kami percaya, waktu Tuhan tidak pernah salah,” tutup Jordy. [way/ian]






