Lamongan (beritajatim.com) – Anggota DPD RI dari Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak para generasi muda, khususnya santri di Lamongan, untuk lebih bijak dalam menyikapi perkembangan era digital yang begitu pesat.
Ajakan itu disampaikan Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, saat menjadi narasumber dalam seminar Pengasuhan Multikultural Upaya Menyiapkan Generasi Emas dan Pemilihan Duta Santri 2024 dalam rangkaian Hari Santri Nasional 2024 yang digelar Pimpinan Anak Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Paciran, Lamongan.
Di hadapan sekitar 400 peserta yang hadir di GOR Kemantren Paciran, Ning Lia menyampaikan bahwa era digitalisasi identik dengan segala kemudahan akses informasi. Namun, era digitalisasi tetap harus diantisipasi dari potensi post truth.
“Post truth dalam hal ini, potensi terjadinya kebohongan yang dianggap sebagai kebenaran. Jika kebohongan menjadi pembenaran, tentu efek dari digitalisasi atau modernisasi tidak lagi sebatas disrupsi sosial,” katanya.
Ning Lia menambahkan, sebelumnya istilah disrupsi disebut oleh Francis Fukuyama sebagai perubahan hubungan sosial, yaitu melemahkan ikatan sosial gemeinschaft (kekerabatan) dan menguatkan gesselschaft, yaitu ikatan yang terbangun karena kesamaan kepentingan di dalam suatu kelompok sosial.
Disrupsi tersebut jika tidak disikapi dengan bijak, juga akan berpotensi ketidakbijakan dalam pemanfaatan digitalisasi. Inilah yang kemudian dikhawatirkan, yaitu terjadinya potensi degradasi nilai sosial, moral, dan kultural.
“Dari sinilah kemudian kita tarik fungsi strategis santri. Bahwa santri memang pemuda sejati yang dibutuhkan dalam pertahanan bangsa. Dengan bekal Hubbul Wathan yang sangat kuat seperti yang menjadi pesan Sang Hadratus Syaikh dan ilmu yang mumpuni, maka santri tidak bisa terbantahkan lagi sebagai tonggak bangsa,” ucapnya.
Menurut Ning Lia, santri mendapatkan pembelajaran secara Rabbani, yaitu pembelajaran secara bertahap dari ilmu pengetahuan yang sederhana berangsur menjadi ilmu pengetahuan yang besar, yang diharapkan memiliki keilmuan cukup dan kelak memberikan kemaslahatan bagi bangsa.
“Santrilah yang diharapkan mampu meluruskan disinformasi, mampu menepis hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia juga melaksanakan reses untuk menerima beberapa aspirasi sesuai dengan Komite III DPD RI yang menaunginya.
“Ada dua aspirasi yang tadi saya terima, di antaranya adalah ketersediaan PPPK Guru PAUD dan ketersediaan kerja yang layak bagi putra daerah,” ucapnya.
Menyikapi aspirasi tersebut, Ning Lia mengatakan bahwa masyarakat sekitar pabrik harus dibekali kemampuan sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan, sehingga bisa diterima oleh perusahaan di daerah setempat.
“Terkait kuota guru PAUD, kita ketahui bahwa Pendaftaran Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebenarnya sudah dibuka pada Oktober kemarin, namun tentunya wajar jika di daerah banyak belum tersosialisasi secara baik, apalagi memenuhi harapan guru PAUD. Ini merupakan PR besar yang mana seusai bidang kerja Komite III, yaitu pendidikan, dan ketenagakerjaan terkait putra daerah tadi,” pungkasnya. [fak/beq]






